Awalnya Nyaris Tutup Permanen, Warteg Warmo Bertahan dengan Go Digital
Ramenya Warteg Warmo di Tebet-kbe-dana
JAKARTA- Kawasan Tebet dikenal sebagai pusat kuliner yang terus bergerak. Di tengah gempuran F&B kekinian yang serba cepat, kebiasaan pelanggan ikut berubah: mereka ingin semuanya praktis termasuk saat membayar.
Namun, di tengah dinamika tersebut, Warteg Warmo tetap berdiri di perempatan Jalan Tebet Raya. Warteg 24 jam ini telah lama menjadi pilihan banyak orang untuk makanan rumahan yang konsisten dan dapat diandalkan.
Selama puluhan tahun, Warteg Warmo membangun reputasinya secara perlahan. Bukan lewat promosi, melainkan lewat kebiasaan pelanggan yang kembali. Dari pekerja malam hingga warga sekitar, banyak yang mempercayakan makan hariannya pada warteg ini.
BACA JUGA:BDx Indonesia Bergerak, Dukung Langsung Komunitas Terdampak Banjir di Sumatra
Sejak empat tahun terakhir, Warteg Warmo dikelola oleh Syukur Iman, atau akrab disapa Iman, seorang pengusaha muda yang mengambil peran dalam melanjutkan perjalanan Warteg Warmo.
Di usianya yang masih 30 tahun, Iman memikul tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun, sekaligus memastikan warteg legendaris ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Tantangan yang Mengawali Perubahan
Sebelum terjun ke dunia bisnis, Iman adalah karyawan swasta berlatar belakang akuntansi. Meski pekerjaannya stabil, ia merasa dunia perkantoran tidak memberi tantangan seperti membangun usaha sendiri.
“Saya memang tipe orang yang suka tantangan. Dunia kerja kantoran tantangannya kan itu-itu saja, itu yang akhirnya membuat saya memilih resign dan membuka usaha,” ujarnya.
Di tengah fase mencari peluang, Iman mendengar kabar yang cukup mengejutkan: pemilik warmo berniat untuk menjual warmo dan menutup secara permanen. Pemilik lama mempertimbangkan menjual Warmo karena tidak sanggup untuk melanjutkan bisnis ini.
“Saya merasa ada rasa sayangnya dan tanggung jawab gitu terhadap rumah makan yang sudah jadi ibarat ‘rumah’ bagi banyak warga. Di sinilah, saya melihat Warmo bukan rumah makan biasa tetapi warteg legendaris yang ramai dan sudah jadi tradisi yang patut diteruskan,” jelas Iman.
Keinginan menghadapi tantangan yang lebih besar pun membawanya pada langkah berani: mengambil alih pengelolaan Warteg Warmo. Mengelola usaha yang sudah berjalan lama memberi tantangan yang berbeda yaitu menjaga kepercayaan yang sudah ada sambil membuat Warmo tetap relevan di tengah perubahan zaman.
BACA JUGA:Persika Fans 1951 Dukung Penutupan Akses Stadion Singaperbangsa Demi Kawasan Olahraga Steril
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: