Pergerakan Tanah Ancam 47 Rumah Warga di Tasikmalaya

Pergerakan Tanah Ancam 47 Rumah Warga di Tasikmalaya

“Pergerakan tanah di Karangjaya, Tasikmalaya, mengancam 47 rumah warga. Evakuasi dan pendataan terdampak masih berlangsung.”--

Jawa Barat, Disway.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan adanya fenomena pergerakan tanah yang mengancam permukiman warga di wilayah Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 47 rumah warga tercatat dalam status terancam rusak.

Fenomena pergerakan tanah ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tanah yang labil akibat jenuh air menyebabkan pergeseran struktur tanah di kawasan permukiman, sehingga memicu retakan pada dinding rumah dan pergeseran pondasi bangunan milik warga.

Tim gabungan dari unsur pemerintah daerah, BPBD setempat, serta relawan kebencanaan langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen awal. Petugas melakukan pendataan rumah terdampak, memetakan area rawan, serta memantau perkembangan pergerakan tanah guna mengantisipasi risiko lanjutan.

BACA JUGA:Bikin Tenang Jiwa dan Raga, Wahana Rakit di Desa Wisata Situ Kamojing Jadi Favorit Warga Ngabuburit

Sebagian warga yang rumahnya berada di zona paling rawan telah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Aparat setempat juga menyiapkan skema evakuasi apabila terjadi pergerakan tanah susulan yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa. Hingga saat ini, proses evakuasi dan pendataan warga terdampak masih terus berlangsung.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar sementara waktu menghindari area yang mengalami retakan tanah dan pergeseran struktur bangunan. Warga juga diminta melaporkan jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah baru, seperti munculnya retakan di halaman rumah, dinding bangunan, atau jalan lingkungan.

Selain upaya tanggap darurat, pemerintah bersama instansi terkait akan melakukan kajian teknis untuk menentukan langkah penanganan jangka menengah dan panjang. Langkah tersebut meliputi mitigasi bencana, kemungkinan relokasi warga di zona rawan, serta upaya perkuatan lereng agar risiko bencana serupa dapat diminimalkan di kemudian hari.***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: