Mengapa Puasa Ramadhan Berbeda dengan Puasa Yahudi dan Nasrani? Ini Penjelasannya

Mengapa Puasa Ramadhan Berbeda dengan Puasa Yahudi dan Nasrani? Ini Penjelasannya

Ilustrasi puasa Ramadhan. Sahur menjadi salah satu ciri khas yang membedakan puasa umat Islam dengan puasa yang dijalankan umat Yahudi dan Nasrani.--

KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID — Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan tradisi puasa agama lain. 

Perbedaan ini tidak hanya terletak pada waktu pelaksanaan, tetapi juga pada konsep, aturan, serta kemudahan yang menyertainya.

Salah satu pembeda paling menonjol antara puasa umat Islam dan puasa umat Yahudi maupun Nasrani adalah ibadah sahur. 

Dalam Islam, sahur bukan sekadar makan sebelum fajar, melainkan bagian dari sunnah yang mengandung nilai ibadah dan keberkahan.

BACA JUGA:Viral Video Ukhti Mukena Pink Tanpa Sensor Ramai Diburu Warganet

Dikutip dari laman NU ONLINE Jum'at, (27/2/2026) Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.”

Lebih jauh, sahur bahkan ditegaskan sebagai pembeda identitas puasa umat Islam dengan puasa Ahli Kitab. 

Dalam hadis riwayat Muslim dari Amr bin al-Ash, Rasulullah SAW bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”

Selain sahur, perbedaan juga terlihat dari tingkat keringanan ibadah puasa dalam Islam. 

BACA JUGA:Ini Dia Model dan Spesifikasi Mobil Dinas Gubernur Kaltim yang Seharga Rp 8,5 Miliar

Ustadz Ahmad Sarwat dalam bukunya Sejarah Puasa menjelaskan bahwa puasa umat Nabi Muhammad SAW tergolong lebih ringan dibandingkan puasa umat terdahulu.

Sebagai contoh, Maryam, ibunda Nabi Isa AS, ketika menjalankan shaum tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diwajibkan menahan diri dari berbicara. 

Jika melanggar, puasanya dianggap batal. Aturan ini menunjukkan bahwa puasa pada umat terdahulu cenderung lebih berat secara fisik dan mental.

Islam juga memberikan rukhsah atau keringanan bagi umatnya. Orang yang sakit, musafir, lanjut usia, atau tidak mampu berpuasa diperbolehkan tidak menjalankan puasa Ramadhan, dengan kewajiban mengganti di hari lain atau membayar fidyah sesuai ketentuan syariat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: