Revitalisasi Pendidikan Moral dan Agama Anak Usia Dini dalam Semangat Hari Pendidikan Nasional
Ade Ismail Fahmi, S.Ag., M.Pd {Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)}--karawangbekasi.disway.id
PENDIDIKAN moral dan agama pada anak usia dini merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi bangsa. Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, refleksi terhadap praktik pendidikan menjadi penting, terutama dalam menghadapi tantangan era digital.
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya revitalisasi pendidikan moral dan agama pada anak usia dini serta strategi implementasinya melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengacu pada pemikiran para pakar pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai moral dan agama melalui pendekatan kontekstual, digital, dan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter pada anak usia dini.
Pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga harus mampu membentuk karakter dan kepribadian anak. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam konteks ini, pendidikan moral dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Namun, di era digital saat ini, terjadi pergeseran pola interaksi dan pembelajaran anak. Paparan teknologi tanpa pendampingan yang tepat dapat memengaruhi perkembangan moral anak. Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi pendidikan moral dan agama yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam momentum Hari Pendidikan Nasional sebagai refleksi dan penguatan nilai-nilai pendidikan bangsa.
Sementara itu, Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa perkembangan moral anak terjadi secara bertahap, sehingga pendekatan pendidikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Menurut UNESCO, teknologi digital dapat menjadi sarana efektif dalam pembelajaran jika digunakan secara bijak dan terarah. Media digital mampu meningkatkan minat belajar anak melalui visualisasi dan interaktivitas. Namun demikian, penggunaan teknologi harus tetap didampingi oleh orang dewasa agar nilai-nilai moral dan agama tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga diinternalisasi dalam perilaku anak. Ada beberapa bahasan terkait dengan tema di atas antara lain:
1. Urgensi Revitalisasi Pendidikan Moral dan Agama
Revitalisasi diperlukan karena adanya perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola belajar anak. Pendidikan moral dan agama tidak lagi cukup dilakukan dengan metode konvensional, tetapi perlu inovasi agar tetap relevan dan efektif. Urgensi revitalisasi pendidikan moral dan agama semakin nyata di tengah perubahan sosial dan pesatnya perkembangan teknologi digital. Anak usia dini kini tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan informasi dan pengaruh global yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai moral dan keagamaan. Tanpa penguatan yang tepat, anak berisiko mengalami kebingungan nilai (moral confusion) yang dapat memengaruhi sikap dan perilakunya. Sejalan dengan pemikiran Thomas Lickona, pendidikan moral tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi harus menyentuh aspek perasaan dan tindakan. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan pendekatan yang lebih kontekstual dan adaptif agar nilai-nilai tersebut dapat dipahami dan diinternalisasi secara utuh oleh anak.
Selain itu, revitalisasi juga penting untuk menjawab tantangan kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dan lingkungan keluarga. Pendidikan moral dan agama tidak akan efektif jika hanya dilakukan secara formal tanpa dukungan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sebagai proses menuntun perkembangan anak menjadi sangat relevan. Revitalisasi perlu dilakukan melalui sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital secara bijak sebagai media pembelajaran yang menarik dan bermakna. Dengan demikian, pendidikan moral dan agama dapat kembali menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: