Daya Beli Melemah, PAD Kabupaten Bekasi Hadapi Tantangan
Daya Beli Melemah, PAD Kabupaten Bekasi Hadapi Tantangan.--Tangkapan layar/google
KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID - Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bekasi hingga pertengahan tahun 2026 belum menunjukkan lonjakan signifikan. Kondisi ekonomi global yang berdampak pada daya beli masyarakat disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penerimaan pajak daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bekasi, Iwan Ridwan, mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari dibandingkan kewajiban perpajakan.
Menurut dia, kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah merupakan wajib pajak yang jumlahnya cukup besar di Kabupaten Bekasi. Ketika biaya hidup meningkat, kemampuan mereka untuk membayar pajak ikut terdampak.
“Sekarang kondisi ekonomi sedang berat. Harga-harga naik, termasuk BBM. Masyarakat tentu lebih mengutamakan kebutuhan sehari-hari. Ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penerimaan pajak daerah,” ujar Iwan Ridwan kepada Cikarang Ekspres, Kamis (11/6).
Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah dalam mengejar target PAD. Bapenda tetap melakukan berbagai langkah untuk mengoptimalkan pendapatan daerah dengan berpedoman pada data dan indikator ekonomi yang valid.
Iwan menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) guna memantau perkembangan ekonomi makro daerah. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan target dan strategi peningkatan pendapatan daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD).
“Kami melihat perkembangan ekonomi daerah melalui data BPS. Penentuan target PAD tidak bisa asal menetapkan angka, tetapi harus mempertimbangkan kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: