Situ Rawa Bedeng di Bojongmangu Mengering, Petani Gigit Jari

Situ Rawa Bedeng di Bojongmangu Mengering, Petani Gigit Jari

Penampakan Situ Rawa Bedeng di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi menjadi daratan akibat kekeringan -Risky Pangestu (Cikarang Ekspres)-

KARAWANG BEKASI DISWAY.ID - Situ Rawa Bedeng di Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, kini berubah menjadi hamparan tanah tandus yang dipenuhi retakan.

Situ seluas sekitar delapan hektare yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan air warga dan pertanian itu mengering setelah tiga bulan dilanda kemarau.

Pantauan Cikarang Ekspres di lokasi, dasar situ tampak mengeras dan pecah-pecah. Hanya sedikit hamparan rumput liar yang masih bertahan di tengah cekungan yang sebelumnya menjadi penampungan air hujan tersebut.

Mengeringnya Situ Rawa Bedeng tak sekadar mengubah bentang alam, tetapi juga memukul kehidupan masyarakat sekitar. Pasokan air untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), kebutuhan rumah tangga, hingga pengairan sawah ikut terhenti. Petani pun terpaksa menghentikan aktivitas menggarap lahan karena tidak memiliki sumber air untuk menopang pertanian.

Di tengah krisis air tersebut, warga kini mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Sebagian lainnya harus mencari sumur alternatif yang lokasinya jauh, bahkan mengantre untuk mendapatkan air.

Salah seorang warga setempat, Dadang (47), mengatakan Situ Rawa Bedeng memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi tempat penampungan air hujan, situ tersebut selama ini menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari dan mengairi persawahan.

“Ini Situ Rawa Bedeng, penampungan air hujan. Airnya buat mandi, ya buat tani juga ke sawah, penampungan air,” kata Dadang kepada Cikarang Ekspres di Bojongmangu, Rabu (14/10).

Menurutnya, kekeringan situ secara langsung berdampak terhadap aktivitas pertanian. Pasalnya, warga selama ini mengandalkan tampungan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah.

“Kan pusatnya ini air di sini (Situ Bedeng). Otomatis kalau ini kering, kan enggak ada air, kering ke sawah juga,” ujarnya.

Dadang menyebut, kondisi kekeringan telah berlangsung sekitar tiga bulan akibat minimnya curah hujan. Situ yang sebelumnya masih mampu menampung air selama beberapa bulan pada musim kemarau itu akhirnya benar-benar mengering pada akhir September.

“Sudah ada tiga bulan (kering). Nah, itu faktor utamanya cuaca,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan pemerintah menjadi salah satu tumpuan, sementara sumur yang masih mengeluarkan air tidak selalu mudah dijangkau.

“Itu dari pembagian di Pemda ada bantuan. Sumur sih ada, tapi jauh dan ngantri,” ungkapnya.

Dadang menjelaskan, pengerukan yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya sempat meningkatkan kemampuan situ dalam menampung air. Jika sebelum pengerukan air biasanya habis setelah sekitar empat bulan musim kemarau, setelah pengerukan daya tahannya disebut meningkat hingga tujuh bulan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: