Oleh: Feri Rizwan (Alumni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UBP Karawang) SECARA ontologis, Pancasila adalah kehendak mencari titik temu (persetujuan) dalam menghadirkan kemaslahatan--kebahagiaan bersama (al-maslahatul al-ammah, bonnumcomune) dalam suatu masyarakat bangsa yang majemuk. Pancasila memiliki visi seperti yang tertuang dalam UUD alinea kedua, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur. Sedangkan misinya pada alenia keempat, Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kalau Pancasila ingin menjadi ideologi yang bekerja (working ideology), setidaknya ada lima jalur yang harus ditempuh. Pertama, jalur penguatan pemahaman Pancasila--menuju Indonesia cerdas kewargaan. Kedua, jalur kerukunan kebangsaan--menuju Indonesia bersatu. Ketiga, jalur pendekatan keadilan sosial--keadilan menuju Indonesia berbagi kemakmuran. Keempat, jalur pelembagaan Pancasila dalam pranata kenegaraan-kemasyarakatan, menuju Indonesia tertata-terlembaga. Kelima, jalur penyuburan keteladanan--menuju Indonesia terpuji. Itulah jalan kebahagiaan-kemajuan hidup bersama-sama. Menurut Yudi Latif, Intensitas pembelajaran Pancasila selama era reformasi mengalami penurunan yang mengakibatkan kurangnya wawasan Pancasila dikalangan pelajar dan kaum muda. Kurangnya efektivitas dan daya tarik pembelajaran Pancasila secara isi dan metodologi. Masih adanya distorsi sejarah akibat kurangnya akses terhadap sumber-sumber otentik. Sosialisasi Pancasila yang dilaksanakan oleh K/L pada umumnya bersifat superfisial, kompartementalis, kurang terencana, terstruktur dan terkoordinasi. Rendahnya tingkat kedalaman literasi masyarakat Indonesia secara umum yang berakibat menurunnya daya pikir dan nalar kritis. Pemahaman terhadap Pancasila belum sepenuhnya dikembangkan secara ilmiah baik melalui pendekatan intradisplin, multidisiplin, dan transdisiplin. Kunci Kebahagiaan menurut Martin Seligman, kunci kebahagiaan yaitu; Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaningfulness, dan Achievement (PERMA). Diambil dari teori Martin Seligman, Yudi Latif menjelaskan lima kunci kebahagiaan yang juga mencerminkan nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, yaitu PERMA. P = Emosi Positif, E = Keterlibatan, R= Hubungan, M = Kebermaknaan, A = Prestasi. Dengan demikian, sila-sila Pancasila mengandung kebahagiaan yang otentik sebagaimana dikemukakan oleh Seligman, yaitu: mengandung pencapaian hubungan yang mempersatukan bangsa--masyarakat Indonesia dengan kebermaknaan dalam suatu pencapaian. (*)
Pancasila Kunci Kebahagiaan
Senin 24-01-2022,04:30 WIB
Oleh: redaksimetro01
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 13-09-2026,11:10 WIB
Ada Banjir hingga Korban Jiwa, Pengawasan Perumahan LBS 2 di Cibitung Dipertanyakan
Minggu 13-09-2026,17:21 WIB
Menembus Awan di The Ranch Ciater, Menikmati Sejuk Pegunungan Bandung Utara
Minggu 13-09-2026,17:24 WIB
Centralia, Kota Mati di Amerika yang Terus Terbakar Selama Puluhan Tahun
Minggu 13-09-2026,17:15 WIB
Tabebuya Bermekaran, Jalan Braga Bandung Makin Semarak di Minggu Pagi
Minggu 13-09-2026,17:18 WIB
Pemuda Pangandaran Bangun Galeri Benda Buhun, Rawat Jejak Kehidupan Masyarakat Sunda
Terkini
Minggu 13-09-2026,18:02 WIB
Praktik Farmasi Sosial, Mahasiswa UEU Hadirkan Edukasi Kesehatan untuk Warga Binong
Minggu 13-09-2026,17:24 WIB
Centralia, Kota Mati di Amerika yang Terus Terbakar Selama Puluhan Tahun
Minggu 13-09-2026,17:21 WIB
Menembus Awan di The Ranch Ciater, Menikmati Sejuk Pegunungan Bandung Utara
Minggu 13-09-2026,17:18 WIB
Pemuda Pangandaran Bangun Galeri Benda Buhun, Rawat Jejak Kehidupan Masyarakat Sunda
Minggu 13-09-2026,17:15 WIB