SUNGGUH miris, pekerja bantuan yang diharapkan dapat meringankan beban masyarakat malah melakukan perbuatan tercela. Sebuah sebuah komisi independen menyebut sekitar 83 pekerja bantuan terlibat eksploitasi dan pelecehan seksual selama epidemi ebola yang masif di Republik Demokratik Kongo pada 2018-2020. Dari jumlah tersebut, 25 persen di antaranya dipekerjakan oleh badan kesehatan dunia WHO. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berjanji memastikan perkara dan penderitaan para korban akan menjadi pemicu untuk transformasi budaya WHO yang mendalam. Menurut Tedros, ke depan tidak akan ada lagi peluang terjadinya eksploitasi seksual. Tidak ada pengampunan jika itu terjadi dan tidak ada toleransi untuk kelambanan "WHO akan menyelidiki potensi tindakan kelalaian oleh staf senior yang mungkin merupakan pelanggaran seperti yang direkomendasikan oleh komisi independen," ujar juru bicara WHO Tarik Jasarevic dalam jumpa pers PBB pada Jumat (22/10). WHO telah memutus kontrak empat staf yang diidentifikasi sebagai pelaku dan menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang Kongo. Donor utama pimpinan Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mendesak WHO untuk melakukan penyelidikan eksternal lebih mendalam. Mereka menuntut penjelasan bagaimana skandal itu dibiarkan terjadi, kata para diplomat kepada Reuters pekan lalu. WHO meminta kantor PBB yang bertanggung jawab melakukan pengawasan internal sehubungan dengan staf dan organisasi (UN OIOS) untuk melakukan peninjauan. Jika perlu, penyelidikan lebih lanjut ke semua kasus dugaan eksploitasi dan pelecehan seksual yang diidentifikasi oleh komisi independen, termasuk yang mereka identifikasi pelakunya adalah staf WHO. "Tim penyelidik eksternal yang terpisah akan mengawasi penyelidikan dugaan kesalahan manajerial sehubungan dengan kegagalan untuk memulai prosedur penyelidikan," demikian pernyataan WHO. Tedros, yang mengunjungi Kongo 14 kali selama epidemi ebola, mengatakan kepada wartawan bulan lalu ketika komisi itu mengungkapkan temuan lengkapnya bahwa tidak ada yang mengangkat tuduhan itu. Seperti pertama kali dilaporkan oleh Reuters pekan lalu, WHO mengatakan pihaknya telah mengerahkan para ahli ke sepuluh negara berisiko tinggi, termasuk Afghanistan dan Ethiopia untuk mencegah eksploitasi seksual. Dalam seminggu terakhir, hampir 40 karyawan WHO dan lembaga mitra PBB telah dilatih dalam upaya pencegahan. (bbs/reuters/jpnn/kbe)
Miris!, Puluhan Pekerja Bantuan Terlibat Pelecehan Seksual
Jumat 22-10-2021,05:21 WIB
Editor : redaksimetro01
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 15-09-2026,07:44 WIB
Kian Bersolek, Ribuan PJU Baru Bakal Hiasi dan Terangi Sejumlah Jalan di Kabupaten Bekasi
Selasa 15-09-2026,09:32 WIB
Plt Bupati Sidak Sejumlah Dinas di Pemkab Bekasi
Selasa 15-09-2026,14:33 WIB
HUT Karawang ke-393, Disdukcapil dan TP PKK Apresiasi Lansia 88 Tahun dan Lima Bayi Kelahiran 14 September
Selasa 15-09-2026,14:36 WIB
Harga Beras di Pasar Tambun Stabil, Polisi Perketat Pengawasan Jelang Akhir Tahun
Selasa 15-09-2026,15:42 WIB
Babak Baru Pemkab Bekasi Pasca Vonis Ade Kuswara Kunang
Terkini
Selasa 15-09-2026,16:41 WIB
Bandel Sih! Pemprov Jabar Akhirnya Segel Tambang PT Mas Putih Belitung di Karawang Selatan
Selasa 15-09-2026,15:52 WIB
Mahasiswa Farmasi Universitas Esa Unggul Dorong Pencegahan DBD dan Stunting di Sindang Panon
Selasa 15-09-2026,15:42 WIB
Babak Baru Pemkab Bekasi Pasca Vonis Ade Kuswara Kunang
Selasa 15-09-2026,15:34 WIB
Sehari Pasca Vonis Ade, Asep Langsung Tancap Gas Sisir Sejumlah OPD Bekasi, Bidik Investasi 80 Triliun
Selasa 15-09-2026,15:25 WIB