“Dengan sistem swakelola, pelaksanaan jadi lebih hemat, efisien, dan tepat sasaran. Kami di Pemda sangat mendukung mekanisme ini dan berharap terus berlanjut,” tambahnya.
Dari sisi pelaksana proyek, Badiyanto, kontraktor lokal yang terlibat dalam pembangunan di SMPN 1 Telagasari, juga menyampaikan apresiasinya. Ia mengaku bangga bisa menjadi bagian dari proses revitalisasi ini.
“Alhamdulillah kami bisa ikut berkontribusi di Telagasari. Sekarang masyarakat lokal dilibatkan langsung dalam pembangunan sekolah, dan ini membawa manfaat ekonomi bagi warga sekitar,” ucap Badiyanto.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana Sarana dan Prasarana (P2SP),Aep Saepudin. Ia menyebut proyek ini sudah memasuki minggu ke-12 dengan progres sekitar 70 persen. Meski dana tahap pertama telah habis, pihaknya masih menunggu pencairan tahap kedua.
“Kami berharap pencairan tahap kedua segera dilakukan karena siswa sudah tidak sabar menempati ruang kelas yang baru. Program ini sangat penting dan diharapkan terus berlanjut untuk menunjang sarana pembelajaran, terutama dalam digitalisasi,” ujarnya.
Aep menambahkan, program ini juga mendorong peningkatan kualitas guru melalui pelatihan deep learning dalam kurikulum merdeka, agar hasil belajar siswa semakin optimal.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlangsung selama proses pembangunan. Pihak sekolah memastikan agar seluruh pekerjaan tidak mengganggu aktivitas belajar siswa.
Di sisi lain, tenaga kerja lokal turut merasakan dampak positif dari program ini. Salah satunya Encay, warga Karawang asal Karolrok Kalijaya yang bekerja sebagai buruh bangunan di proyek SMPN 1 Telagasari.