Menenun Kembali Makna Pendidikan: Antara Adab, Skill, dan Disrupsi

Rabu 06-05-2026,10:56 WIB
Reporter : AYI
Editor : Ilham Prayogi

‎​Di era disrupsi, kurikulum sering dianggap tertinggal oleh kecepatan industri. Namun, jika pendidikan hanya mengejar kebutuhan pasar, kita berisiko menciptakan lulusan yang cepat "kedaluwarsa" karena teknologi terus berubah.

‎​Keseimbangan Baru: Pendidikan harus memberikan fundamental science yang kokoh (agar adaptif) sekaligus applied skills yang relevan. Ilmu adalah akar, sedangkan kebutuhan kerja adalah buah. Tanpa akar yang kuat, pohon akan tumbang saat angin disrupsi menerjang.

‎​3. Teknologi dan Budaya: Integrasi Tanpa Degradasi

 

‎​Kecanggihan teknologi seringkali membawa budaya global yang seragam, yang berisiko menggerus nilai-nilai lokal. Di sinilah esensi "Ing Ngarsa Sung Tuladha" harus relevan secara digital.

 

‎​Literasi Digital sebagai Budaya: Menanamkan nilai sopan santun nusantara ke dalam ruang siber.

‎​Teknologi sebagai Alat, Bukan Identitas: Kita menggunakan AI untuk efisiensi, namun tetap menggunakan rasa dan gotong royong dalam penyelesaian masalah sosial.

‎​Pendidikan harus mampu menjadikan teknologi sebagai "kendaraan" untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita ke kancah dunia, bukan malah membuat kita asing di tanah sendiri.

‎​4. Menyeimbangkan Keilmuan di Hari Pendidikan

Kategori :