TAJUK RENCANA
ADA becandaan dari para wartawan yang datang ke lokasi terbakarnya gedung BPN Karawang. Di judul saya singkat: Karkantan. Kebakaran kantor pertanahan. Saking gercepnya, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Ossy Dermawan datang ke lokasi lebih dulu dibanding petugas pemdam kebakaran. Tidak tahu benar. Atau tidak. Kalau pun benar, mungkin Pak Wamen on call. Ketika mendapat kabar gedung kebakaran sekitar pukul 22.50 WIB, langsung on the way, dan kebetulan jalanan lenggang sehingga, satu jam kemudian Pak Wamen tiba di lokasi.
Atau mungkin Pak Wamen sedang berada di lokasi dekat Karawang, sehingga cepat tiba di lokasi. Bukan berarti Pak Wamen tahu lebih awal dibanding para petugas damkar. Apalagi tahu sebelum kebakaran terjadi. Kita tentu diajari langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran. Pasti menguhubungi petugas damkar ada di daftar lebih dahulu, lalu menghubungi pimpinan di Jakarta. Dan kantor pemadam kebakaran di Karawang pun lokasinya dekat dengan kantor BPN. Secara hitung-hitungan, pasti lebih dulu datang rombongan mobil damkar daripada Pak Wamen. Tapi ini cerita becandaan para wartawan di lapangan saja.
Sembilan puluh (90) persen kondisi gedung ludes terbakar. Hanya ada satu ruangan yang selamat. Ruangan warkah. Ruangan yang berisi kumpulan dokumen penting yang menjadi dasar dalam setiap proses pelayanan penerbitan dokumen pertanahan. Ini menjadi catatan penting, keamanan gedung strategis. Apalagi yang bersifat layanan publik. Sudah saatnya kita membangun gedung-gedung layanan publik bukan cuma megah dan nyaman. Tapi aman. Bahkan ketika suatu waktu bencana tiba, dokumen-dokumen penting di dalamanya tetap aman.
Pagi hari kemarin, saya yakin henpon para notaris terus berdering. Diberondong pertanyaan oleh para pengguna jasa notaris untuk mengurus dokumen pertanahan. Mereka pasti was-was akan keamanan dokumen penting aset berupa tanah milik mereka. Syakwasangka dalam beberapa komentar di. media sosial pun dilontar. Umumnya oleh pihak-pihak yang sedang menghadapi sengketa pertanahan. Tentu ini menjadi ranah kepolisian membuka penyebab kebakaran agar masyarakat yang syakwasangka betul percaya bahwa kebakaran yang terjadi memang bencana.
Teriring do'a kepada para korban bencana kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatra, kami pun berdoa semoga pelayanan pegurusan dokumen pertanahan di Karawang cepat pulih kembali pasca kebakaran hebat gedung BPN Karawang. (*)