417 Siswa Mulai Masuk Asrama di Sekolah Rakyat Kabupaten Bekasi, Ada yang Kaget Minta Pulang
Sekolah Rakyat Terintegras 1 Kabupaten Bekasi--
KARAWANG BEKASI DISWAY.ID – Sebanyak 417 siswa mulai menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi. Program tersebut menjadi tahap awal bagi para siswa untuk beradaptasi dengan pola pendidikan berasrama sekaligus membentuk karakter dan kemandirian.
Dari total 417 siswa, sebanyak 237 siswa merupakan calon siswa (casis) asal Kabupaten Bekasi. Mereka terdiri dari 57 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP dan 90 siswa SMA. Sementara itu, terdapat 90 casis asal Kota Bekasi, dengan rincian masing-masing 30 siswa SD, 30 siswa SMP dan 30 siswa SMA.
Selain itu, sebanyak 90 siswa merupakan pindahan dari Sekolah Rakyat rintisan Kota Bekasi. Dari jumlah tersebut, 44 siswa di antaranya berasal dari Kabupaten Bekasi. Dengan demikian, total siswa yang saat ini tercatat di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi mencapai 417 siswa.
Pembukaan MPLS dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja bersama unsur Forkopimda, anggota DPR RI Komisi VIII Wardatul Asriah dan jajaran terkait lainnya di Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Senin (31/8/2026).
Asep mengatakan, Sekolah Rakyat di Kabupaten Bekasi saat ini telah menampung ratusan siswa. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan anak-anak dari Kabupaten Bekasi, sementara sebagian lainnya berasal dari luar daerah.
“Alhamdulillah hari ini kita membuka MPLS sekaligus melihat sarana dan prasarana. Untuk yang sudah terisi ada 287 siswa yang sudah registrasi,” kata Asep Surya Atmaja kepada Cikarang Ekspres.
Ia menyebutkan, berdasarkan data pemerintah, terdapat sekitar 237 siswa yang berasal dari Kabupaten Bekasi. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses penjangkauan terhadap anak-anak yang memenuhi kriteria.
Kaget Libur Tiga Kali Setahun, Siswa Baru Minta Pulang
Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat bukan sekadar memberikan pendidikan gratis, tetapi juga membentuk karakter anak melalui sistem pendidikan berasrama.
“Sekolah di sini dibentuk dan dibina, jadi bukan sekolah yang bisa pulang setiap minggu. Ini akan menjadi pembentukan karakter untuk masa depan,” ujarnya.
Asep mengakui, sistem asrama membuat sejumlah siswa membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Bahkan, terdapat beberapa siswa yang sempat pulang karena kaget dengan pola kehidupan di asrama.
Pasalnya, para siswa hanya mendapatkan kesempatan libur sebanyak tiga kali dalam setahun. Kendati demikian, siswa yang belum mampu beradaptasi akan kembali dipanggil untuk mengikuti proses pendidikan.
“Memang ada beberapa siswa yang datang lalu pulang karena kaget. Karena di sini liburnya hanya tiga kali dalam setahun. Tapi insyaallah akan dipanggil lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



