HUT RI Kabupaten Bekasi 2026

Bertaruh Nyawa Menyeberangi Waduk Saguling, Bocah SD di Bandung Barat Andalkan Rakit untuk Sekolah

Bertaruh Nyawa Menyeberangi Waduk Saguling, Bocah SD di Bandung Barat Andalkan Rakit untuk Sekolah

Bertaruh Nyawa Menyeberangi Waduk Saguling, Bocah SD di Bandung Barat Andalkan Rakit untuk Sekolah--

Jawa Barat, Disway.id - Sebuah rakit bambu sederhana terparkir di ujung Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di atasnya berdiri seorang pria dewasa yang setiap hari bertugas sebagai juru kemudi.

Rakit tersebut bukan sekadar alat transportasi bagi warga setempat. Setiap pagi dan siang, rakit digunakan untuk mengantarkan belasan anak sekolah dasar menyeberangi perairan Waduk Saguling yang merupakan bagian dari aliran Sungai Citarum.

Agus Sumpena menjadi salah satu warga yang menjalankan tugas tersebut. Dengan telaten, ia menarik tambang yang terhubung dari satu sisi ke sisi lainnya agar rakit dapat bergerak meninggalkan dermaga Kampung Sadang menuju Kampung Gombong, tempat SD Negeri Budiharja berdiri.

BACA JUGA:Bitcoin yang Dikira Hilang Kembali, Pria Inggris Mendadak Jadi Miliarder Rp79 Miliar

Perjalanan menyeberangi waduk sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit. Namun, perjalanan singkat itu menjadi bagian dari keseharian anak-anak Kampung Sadang untuk bisa mengenyam pendidikan.

Pagi itu, Imam, Dian, dan belasan siswa lainnya tampak mengenakan seragam putih merah. Setelah turun dari rakit, mereka berjalan menuju sekolah. Angin musim kemarau membuat suasana di pelosok Bandung Barat tersebut terasa sejuk meski aktivitas warga mulai ramai.

Bagi anak-anak Kampung Sadang, rakit menjadi moda transportasi utama menuju sekolah. Jika memilih jalur darat, mereka harus menempuh rute yang lebih memutar. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki atau sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor.

"Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak ke sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak, kalau dulu lebih bisa sampai puluhan," kata Agus Sumpena, Ketua RT 05 Desa Budiharja sekaligus pengemudi rakit, Jumat (28/8/2026).

Tradisi menyeberangkan anak-anak menggunakan rakit itu sudah berlangsung sejak 1990-an, setelah Waduk Saguling dibangun dan diresmikan pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Sejak saat itu, keberadaan waduk mengubah akses warga dan membuat rakit menjadi salah satu sarana transportasi penting.

Pada awalnya, orang tua mengantar anak-anak mereka menggunakan rakit dan perahu kecil secara bergantian. Seiring bertambahnya jumlah siswa, pihak sekolah kemudian menyediakan rakit berukuran lebih besar yang mampu mengangkut sekitar 20 anak.

"Nah dulu itu, orangtua antar anaknya masing-masing pakai rakit terus perahu. Karena semakin banyak, akhirnya pihak sekolah membuatkan rakit berukuran agak besar yang bisa mengangkut 20 anak. Jadi sampai sekarang itu berlanjut, dikoordinir sama warga pemberangkatannya," ujar Agus.

Namun, rakit bambu tersebut tidak dapat digunakan selamanya. Terus-menerus berada di atas air dan terpapar panas matahari membuat bambu lebih cepat mengalami kerusakan. Tambang yang digunakan untuk menarik rakit juga harus mendapat perhatian karena menjadi bagian penting dalam proses penyeberangan.

"Ya lebih dari enam mungkin yang dipakai, karena kan terus disimpan di air, lalu kepanasan jadi bambunya gampang rusak. Belum lagi tambangnya, kalau enggak ada tambang agar berbahaya juga meskipun ada dayung," kata Agus.

Menyeberang dengan Risiko

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: