Perang Berdampak pada Penerbangan Umrah, BERSATHU Minta Pemerintah Segera Cari Solusi
Wakil Ketua Asosiasi Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (BERSATHU) sekaligus pemilik Sanema Haji & Umroh, Rafiudin Firdaus.--karawangbekasi.disway.id
Ia menjelaskan bahwa satu kelompok jamaah biasanya terdiri dari sekitar 30 orang. Dengan biaya paket rata-rata sekitar Rp30 juta per orang, maka total dana yang harus disiapkan oleh satu biro perjalanan bisa mencapai sekitar Rp1 miliar lebih.
“Bayangkan jika satu travel memiliki dua hingga tiga grup keberangkatan. Nilainya sangat besar dan ini berpotensi mengganggu arus kas perusahaan jika tidak ada kepastian hukum,” jelasnya.
Karena itu, BERSATHU mendorong pemerintah untuk menghadirkan regulasi yang melindungi semua pihak, baik jamaah maupun penyelenggara perjalanan. Beberapa opsi yang diusulkan antara lain perpanjangan masa berlaku visa serta kebijakan pengembalian atau penjadwalan ulang pembayaran layanan seperti hotel dan transportasi.
Selain itu, momen umrah di 10 hari terakhir bulan Ramadan menjadi perhatian khusus karena tidak bisa dengan mudah digeser ke waktu lain. Jika keberangkatan pada periode tersebut tertunda, jamaah berpotensi kehilangan momentum ibadah yang sangat diinginkan.
Ia juga menyebut sejumlah maskapai yang menggunakan sistem transit masih melakukan penyesuaian jadwal penerbangan. Maskapai seperti Singapore Airlines, Royal Brunei Airlines, dan SriLankan Airlines dilaporkan masih menunda sebagian penerbangan yang berkaitan dengan rute umrah.
“Kami berharap ada kepastian regulasi agar tidak terjadi konflik antara travel dengan jamaah. Travel pada dasarnya sudah berusaha memenuhi seluruh kewajiban kepada jamaah, sehingga diperlukan perlindungan kebijakan dari pemerintah,” tutupnya.(Aufa)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: