Moral Aktivis Mahasiswa Karawang Tercoreng, Anak FAI Unsika Dianiaya Hanya karena Selisih Pandangan
Kampus Unsika-Kampus Unsika-
KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID- Kini moral para kktivis Mahasiswa Karawang sedang tercoreng. Anak FAI Unsika jadi korban penganiayaan hanya karena beda pandangan.
Karawang- Kasus penganiayaan antar mahasiswa terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Seorang mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) diduga menjadi korban tindakan kekerasan fisik dan intimidasi yang dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa dari lingkungan fakultas yang sama.
Peristiwa mengerikan ini berawal dari adanya perbedaan pandangan dalam komunikasi pesan singkat atau obrolan pribadi di antara mereka.
BACA JUGA:Mitchell Baker Cetak Quattrick, Indonesia Unggul Telak atas Bangladesh 6-1 di Babak Pertama
Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh perwakilan pihak korban, Adkqia Bintang Iqbal, tindak kekerasan tersebut bermula ketika kelompok pelaku merasa tersinggung oleh pernyataan korban dalam pesan pribadi.
Meski korban telah dipaksa dan bersedia melayangkan permohonan maaf secara langsung sesuai keinginan pihak yang merasa tersinggung, intimidasi terhadap korban ternyata tidak berhenti sampai di situ. Permintaan maaf tersebut justru berlanjut pada aksi kekerasan fisik yang terencana.
Eskalasi kekerasan fisik dilaporkan terjadi semenjak pekan lalu, di mana korban secara paksa diseret keluar dari ruang kelasnya saat beraktivitas di kampus.
Korban sempat mengalami percekcokan hebat di area publik kampus, tepatnya di depan toilet dekat masjid yang berdekatan dengan Aula Unsika. Situasi kian memanas saat korban ditarik secara paksa menuju area kantin depan universitas untuk diinterogasi secara sepihak.
BACA JUGA:Data Center AI Rp3,5 Triliun di Jatiluhur Disorot, Kebutuhan Air Capai 33 Juta Liter per Hari
Di lokasi kantin depan tersebut, korban mulai mendapat perlakuan fisik dari para pelaku.
Penuturan Adkqia, selain cecaran pertanyaan dan tekanan mental, korban juga mengalami tindakan penganiayaan fisik secara langsung, salah satunya berupa pelemparan botol minuman ke arah tubuh korban saat proses interogasi berlangsung.
Aksi intimidasi tersebut terus berlangsung hingga malam hari. Sekitar pukul 19.00 WIB, korban dibawa secara paksa oleh kelompok pelaku menuju lokasi yang kerap mereka jadikan markas atau basecamp di kawasan Warung Bambu.
Di lokasi inilah tindak perundungan dan intimidasi meluas secara lebih masif dan intensif, di mana korban kembali diinterogasi dengan tekanan yang jauh lebih parah.
"Di basecamp-nya baru dilakukan perundungan kembali, diinterogasi lebih parah, gitu. Terkait dengan bukti-buktinya, pada saat ini yang sudah terkumpul ada bukti CCTV yang ada di lokasi dekat basecamp, wilayah Warung Bambu, ketika korban diangkut pulang," ujar Adkqia, Kamis (1/10).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




