Tinjauan Kritis Sistem Pendidikan Nasional
Meisya Alfathiara, Mahasiswi STAI SADRA.--KBEDISWAY
2. Kesimpulan
Transformasi pendidikan Indonesia tidak akan pernah berhasil jika hanya diukur dari kemewahan fasilitas fisik atau formalitas adopsi kurikulum asing. Pendidikan sejati adalah ikhtiar manusiawi untuk menuntun seseorang mengenal dirinya sendiri (ma'rifat al-nafs), mengasah fitrah potensinya, dan membekalinya dengan ketajaman nalar kritis. Dengan merekonstruksi kurikulum berbasis epistemologi JTB, menghargai keberagaman potensi anak, serta menyediakan bimbingan karir yang adil di setiap sekolah, Indonesia tidak hanya menyelamatkan generasi mudanya dari krisis identitas, tetapi juga meletakkan fondasi intelektual yang paling kokoh menuju Indonesia Emas 2045.
• Menjembatani Hambatan Bahasa (Diglosia): Pendampingan nalar disampaikan secara komunikatif dengan mengintegrasikan pemahaman bahasa daerah ke Bahasa Indonesia agar siswa tidak terbebani hambatan bahasa saat mengasah daya nalar.
Tahap 3: Standarisasi Guru BK Psikologi dan Bimbingan Transisi Karir Inklusif
• Reformasi Kualifikasi Guru BK: Mendorong regulasi pemerintah agar posisi Bimbingan Konseling (BK) di setiap sekolah wajib diisi oleh lulusan murni Psikologi atau Bimbingan Konseling.
• Konseling Transisi Bebas Biaya: Menyediakan layanan konseling karir mandiri sebelum kelulusan SMA/SMK untuk memetakan jurusan kuliah atau jalur kerja yang sesuai dengan grafik potensi siswa, sehingga hak bimbingan karir tidak lagi dimonopoli oleh siswa yang mampu membayar bimbel mahal. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


