Banjir Masih Jadi Momok, Warga Pertanyakan Efektivitas Program Pengendalian
Banjir kembali melanda Bekasi pada 2026. Warga mempertanyakan efektivitas program pengendalian banjir yang belum mampu mengatasi genangan.--
Kota Bekasi, Disway.id - Banjir kembali menjadi persoalan yang menghantui masyarakat Bekasi pada awal tahun 2026. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bekasi dan daerah hulu menyebabkan sejumlah kawasan permukiman kembali terendam. Ribuan warga terdampak dan sebagian terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan banjir meluas hingga puluhan desa dan kecamatan. Ribuan kepala keluarga terdampak, sementara sejumlah fasilitas umum, jalan lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu akibat genangan yang bertahan selama beberapa hari.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai efektivitas berbagai program pengendalian banjir yang selama ini telah dijalankan pemerintah daerah. Warga menilai pembangunan infrastruktur pengendali banjir dan normalisasi saluran air belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan risiko banjir di sejumlah titik langganan genangan.
BACA JUGA:PAD Kabupaten Bekasi Masih Seret
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa banjir masih terjadi hampir setiap musim hujan, bahkan di wilayah yang sebelumnya telah mendapatkan program perbaikan drainase. Mereka berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan air, termasuk mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung yang dinilai masih belum optimal.
Di sisi lain, BPBD menjelaskan bahwa banjir tahun ini dipengaruhi oleh tingginya curah hujan dan meluapnya beberapa sungai yang melintasi wilayah Bekasi. Selain faktor cuaca ekstrem, kondisi drainase yang tidak mampu menampung debit air juga disebut menjadi salah satu penyebab meluasnya genangan di sejumlah kawasan permukiman.
Pengamat tata kota menilai penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan pengerukan saluran atau pembangunan tanggul. Diperlukan penataan kawasan resapan air, pengendalian alih fungsi lahan, serta sinkronisasi program antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat agar solusi yang diterapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Masyarakat berharap peristiwa banjir yang terus berulang setiap tahun dapat menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan. Dengan perencanaan yang lebih matang dan pelaksanaan program yang konsisten, warga berharap persoalan banjir di Bekasi tidak lagi menjadi ancaman rutin yang mengganggu kehidupan sehari-hari.***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: