Oleh: Andi Firmansyah
Pemerhati sosial, kemasyarakatan, dan lingkungan. Alumnus Universitas Muhammadiyah Lampung
KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID - Pangalengan, kawasan dataran tinggi di Bandung Selatan yang tersohor dengan hamparan "permadani" hijaunya, kini sedang berduka akibat luka lingkungan yang menganga. Ribuan pohon teh yang puluhan tahun menjadi penyangga ekosistem ditemukan habis ditebang secara masif oleh oknum tidak bertanggung jawab beberapa hari lalu. Aksi brutal itu merupakan kejahatan lanjutan dari rangkaian aksi yang sama beberapa bulan sebelumnya.
Dari telisik model, cara, tilas, dan rangkaian peristiwanya, kejahatan bermotif ekonomi dan berimbas kepada kejahatan ekologis ini patut diduga terorganisasi by design. Sebab, selain merusak tanaman teh dengan menebang dan mencabut pohon, ada aksi kriminal lain yang linier beraroma sabotase. Yakni, mereka juga mencabuti bibit-bibit tanaman teh yang baru beberapa pekan ditanam untuk memulihkan pohon teh yang dulu mereka tebangi. Di gelap malam, mereka beraksi.
Dari kebun yang telah ditebangi, Tim dari PTPN I Regional 2 sebagai pemilik kebun teh menemukan bibit-bibit kentang yang sudah di tanam di lahan tersebut. Ini sangat berbahaya karena penggantian pohon teh dengan tanaman sayuran di lokasi ini bukan semata motif ekonomi, tetapi juga ancaman kepada alam yang berpotensi mengundang bencana ekologi. Kejadian ini bukan sekadar konflik agraria biasa, melainkan bukti nyata adanya agresi sistematis terhadap kelestarian alam demi kepentingan sesaat.
Tragedi ini ternyata tidak berdiri sendiri. Fenomena penebangan pohon teh secara masif dengan pola yang identik kini juga merambah wilayah Kabupaten Bandung Barat. Di sana, kawasan hijau yang seharusnya menjadi pelindung resapan air bagi cekungan Bandung turut digunduli oleh oknum warga yang bergerak secara terorganisasi.
Kesamaan pola di Bandung Selatan dan Bandung Barat ini menunjukkan adanya "penyakit" yang sama: kolaborasi gelap antara warga lokal sebagai eksekutor lapangan, pemodal yang menyuntikkan dana penggarapan, serta perusahaan swasta yang siap menampung hasil panennya.
Maraknya pengrusakan ini seolah menjadi tamparan keras sekaligus tantangan bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Sebagai tokoh yang selama ini dikenal publik sebagai penggiat lingkungan yang teguh dengan filosofi "menjaga alam adalah menjaga kehidupan," kenekatan para oknum perusak lahan ini merupakan penghinaan terhadap visi hijau yang diusung KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi.