Kaliulu di Cikarang Utara Dibersihkan, Pemerintah Tekan Risiko Banjir

Rabu 28-01-2026,16:08 WIB
Editor : Suhlan Pribadi

Ia menyebut curah hujan tinggi yang disertai luapan sungai menjadi penyebab utama genangan di sejumlah kawasan permukiman.

“Curah hujan cukup tinggi ditambah luapan kali membuat perumahan seperti PCH dan Sakura sempat tergenang,” imbuhnya.

BACA JUGA:CBR Club Gelar Honda Track Day 2K26, Edukasi Balap dan Ajang Silaturahmi Komunitas CBR

Disisi lain, Nurhayani (43), salah satu warga, mengaku trauma setiap kali hujan deras mengguyur. Ia khawatir air kembali masuk ke dalam rumah seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

“Sekarang mah tiap hujan turun rasanya nggak tenang. Bawaannya khawatir terus,” kata Nurhayani.

Ingatan tentang air yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah masih membekas kuat. Beberapa kali banjir datang tanpa banyak peringatan. Air merangsek cepat, memaksa warga menyelamatkan barang-barang seadanya dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

BACA JUGA:Dedi Mulyadi Buru Pemburu Liar yang Melukai Macan Tutul di Karawang Selatan

“Kalau hujannya deras dan lama, pasti kepikiran terus. Takut kejadian lagi,” ujarnya.

Trauma itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir di kawasan perumahan tersebut disebut semakin sering terjadi. Sistem drainase yang tak mampu menampung debit air, ditambah luapan saluran di sekitarnya, membuat air mudah meluber ke permukiman.

Bagi ibu dua anak itu, banjir bukan hanya merusak perabot rumah tangga, tetapi juga menggerus rasa aman. Malam hari saat hujan turun justru menjadi waktu paling menegangkan.

BACA JUGA:Pertamina Patra Niaga RJBB dan Hiswana Migas Bandung Salurkan Bantuan Tanggap Bencana Tanah Longsor di Bandung

“Tidur juga nggak nyenyak. Bolak-balik ngecek air, lihat ke depan rumah, takut tiba-tiba naik,” tuturnya.

Kondisi serupa dirasakan warga lain. Setiap musim hujan, mereka seperti berada dalam status siaga. Beberapa warga bahkan memilih meninggikan lantai rumah secara bertahap, meski harus merogoh biaya tidak sedikit.

Namun, bagi Nurhayani, upaya mandiri itu belum cukup menghapus rasa cemas. Ia berharap ada penanganan serius dari pemerintah agar banjir tak lagi menjadi ancaman rutin.

“Kami cuma pengin hidup tenang. Hujan ya hujan aja, nggak usah takut kebanjiran lagi,” tandasnya.  (Iky)

Kategori :