KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID – Adu komentar antara netizen Asia Tenggara (SEAblings) dan netizen Korea Selatan (K-Netz) kembali memanas di media sosial.
Perdebatan yang awalnya dipicu isu sepele berkembang menjadi gelombang saling serang, dengan hinaan bernada rasial kembali menyeruak ke ruang publik.
Ironisnya, sasaran penghinaan justru datang dari negara yang selama ini menikmati keuntungan besar dari pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar K-pop, baik dari penjualan album, tiket konser, hingga konsumsi konten digital.
BACA JUGA:Polres Karawang Sosialisasi Pertolongan Pertama Saat Kecelakaan Lalulintas pada Ratusan Ojol
Jurnalis senior A. Ainur Rohman menyoroti ketimpangan tersebut melalui unggahan di akun X pribadinya.
Ia menyebut posisi Indonesia dalam industri hiburan Korea sangat vital, namun kerap tidak dibarengi dengan respek yang setara.
“Ironis banget. Korea Selatan mengekspor budayanya secara masif ke Indonesia. Pada 2025 bahkan jadi top 3 konsumen terbesar K-pop di dunia,” tulis Ainur dikutip dari X pribadinya Jum’at, (13/2/2026).
Menurutnya, fakta tersebut seharusnya menjadi cermin bahwa penggemar Indonesia bukan sekadar penonton pasif, melainkan bagian penting dari mesin ekonomi industri hiburan Korea.
Namun, realitanya di media sosial justru menunjukkan hal sebaliknya.
Dalam konflik terbaru antara SEAblings dan K-Netz, kembali muncul narasi rasis yang menyamakan fisik orang Asia Tenggara dengan hewan atau memandang mereka sebagai warga kelas dua.
Unggahan bernada merendahkan itu menyebar luas dan memicu kemarahan penggemar di berbagai platform.
Ainur menyayangkan kondisi tersebut. Ia menilai ada paradoks besar dalam fenomena Hallyu yang selama ini dibanggakan Korea Selatan.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Anjlok Drastis Hari Ini, 13 Februari 2026