Penelitian juga menunjukkan bahwa usia memengaruhi hasilnya. Ada dugaan manfaat lebih terlihat pada rentang usia tertentu, seperti 20–39 tahun atau usia lanjut.
Di sisi lain, hormon testosteron juga memiliki peran penting. Kadar testosteron rendah justru dikaitkan dengan kondisi kanker yang lebih buruk, bukan sebaliknya.
Sayangnya, banyak penelitian yang belum secara spesifik mengukur faktor hormon ini secara mendalam.
Para ahli sepakat, hingga saat ini belum ada kesimpulan pasti bahwa frekuensi ejakulasi tertentu bisa secara langsung menurunkan risiko kanker prostat.
BACA JUGA:Keren, Siswa SMPN 1 Rengasdengklok Bertabur Prestasi
Beberapa keterbatasan penelitian masih menjadi catatan, mulai dari metode pengumpulan data yang bergantung pada ingatan responden, hingga kemungkinan adanya faktor lain seperti gaya hidup sehat yang turut memengaruhi hasil.
Alhasil, hubungan antara ejakulasi dan risiko kanker prostat masih bersifat korelasi, bukan sebab-akibat yang pasti.