5 Jurus Karier dari CEO Astra Infra, Networking Saja Tak Cukup!

Sabtu 29-08-2026,16:39 WIB
Reporter : Sigit Nugroho
Editor : Gatot Handono

Ia memandang pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan satu-satunya tujuan hidup. Karena itu, seseorang perlu memiliki arah agar tidak kehilangan jati diri ketika mengejar karier.

"Bekerja itu hanya perjalanan aja. At the end of the day, apa yang kita miliki hanya diri kita aja," kata dia.

4. Jangan Nyaman Jadi Pekerja Rata-Rata

Firman kemudian mengingatkan anak muda agar tidak cepat puas dengan pencapaian yang biasa-biasa saja. Ia mengutip prinsip mantan CEO General Electric, Jack Welch, yang membagi pekerja menjadi tiga kelompok.

Menurut prinsip tersebut, sekitar 20% pekerja masuk kelompok terbaik, 70% berada di kelompok rata-rata, sedangkan 10% masuk kelompok yang tidak produktif. Firman meminta generasi muda berusaha masuk ke kelompok terbaik.

"Kalau mau sukses, jangan puas jadi 70%. Jangan pernah jadi 10%. Harus berusaha jadi 20%," tegasnya.

Ia juga meminta pekerja memahami keunggulan yang membuat dirinya berbeda. Namun, keunggulan tersebut tetap harus ditunjukkan secara wajar tanpa melakukan overselling terhadap kemampuan sendiri.

"Kenapa saya milih kamu? Kenapa kamu istimewa? Kemudian kita juga harus menunjukkan diri jangan terlalu overselling," kata Firman.

Soft Skill Jadi Pembeda

Menurut Firman, kemampuan intelektual atau IQ memang penting dalam pekerjaan. Namun, soft skill dapat menjadi pembeda ketika seseorang harus bekerja bersama orang lain.

Kemampuan tersebut antara lain membangun networking, mengelola atasan, mengelola orang, serta menciptakan suasana kerja yang positif. Kemampuan berinteraksi dengan lingkungan kerja menjadi bekal penting untuk membangun karier dalam jangka panjang.

"Menjadi pintar penting. Tapi menjadi orang yang punya soft skill yang luar biasa, networking, bisa managing boss, bisa managing people, bisa membuat suasana menjadi positif, itu jauh lebih penting," ujarnya.

5. Go Extra Mile dan Jangan Tinggalkan Kejujuran

Jurus terakhir yang disampaikan Firman adalah kesediaan untuk memberikan usaha lebih dalam pekerjaan atau go extra mile. Ia menilai kerja keras dan fokus menjadi bagian penting untuk mencapai keberhasilan.

"Mereka yang malas nggak dapat apa-apa. Mereka yang cepat nggak dapat apa-apa. Kemudian ya harus fokus," tandasnya.

Meski demikian, Firman mengingatkan agar kerja keras tidak membuat seseorang mengabaikan kehidupan pribadi. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan perlu tetap dijaga sepanjang perjalanan karier.

Selain kerja keras, ia menempatkan kejujuran sebagai prinsip yang tidak boleh ditawar. Bagi Firman, kejujuran bukan sekadar tuntutan dari perusahaan atau orang lain, melainkan nilai yang harus dijaga untuk diri sendiri.

"Dan terakhir adalah masalah tadi udah disinggung juga ya, kejujuran. Itu nggak bohong. Buat siapa kejujuran? Buat diri kita sendiri, bukan buat orang lain," kata Firman.

Alumni FEB UI Siapkan Mentorship

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian reuni 40 tahun FEB UI angkatan 1986. Ketua Tim Career Advice & Mentorship dan Scholarship Panitia Reuni Alumni FEB UI-86, Sylvia M Siregar, mengatakan kegiatan itu menjadi bentuk kontribusi alumni kepada almamater dan mahasiswa.

Kategori :