Menenun Kembali Makna Pendidikan: Antara Adab, Skill, dan Disrupsi
Dr. Devi Sulaeman, M.Pd {Dekan Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)}--karawangbekasi.disway.id
PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremoni untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, melainkan momen refleksi: Apakah lembaga pendidikan kita hari ini sedang mencetak manusia, atau sekadar memproduksi "komponen" untuk mesin industri?
Di era disrupsi ini, tantangan pendidikan kita terbelah dalam tegangan antara idealisme ilmu dan pragmatisme pasar kerja.
1. Mendidik vs. Mengajar: Peran Pendidik di Era AI
Dulu, guru adalah sumber informasi utama. Sekarang, algoritma bisa memberikan jawaban lebih cepat. Namun, teknologi tidak bisa memberikan keteladanan.
Pendidik (Educator): Fokus pada pembentukan karakter, moral, dan kebijaksanaan (wisdom). Pengajar (Teacher): Fokus pada transfer informasi dan kecakapan teknis.
Di tengah gempuran teknologi, peran pendidik harus bergeser menjadi fasilitator emosional. Tugasnya bukan lagi memastikan siswa "tahu", tapi memastikan siswa "paham" cara menggunakan pengetahuannya secara etis. Pendidikan tanpa "mendidik" hanya akan melahirkan pakar yang cerdas secara kognitif namun buta secara nurani.
2. Dikotomi Ilmu dan Kebutuhan Industri
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: