Tumbuh Bersama dalam Tepuk Tangan

Tumbuh Bersama dalam Tepuk Tangan

Salah satu penampilan kegiatan menari bersama dalam kegiatan Lomba Inklusi yang diselenggaran di Techno Mart (KCP Mall 2) dalam rangka perayaan Hari Disabilitas Internasional. --

KARAWANG - Saat itu, Hilman Zulfatwa (30) sebenarnya hanya ingin menghabiskan akhir pekan bersama rekan kerjanya di Techno Mart yang menjadi bagian dari Karawang Central Plaza (KCP) Mall. Tak ada rencana menonton perlombaan. Tak pula ia mengenal satu pun anak yang siang itu  bergantian naik ke panggung di lantai dasar Techno Mart. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika tepuk tangan bergema dari tengah atrium. Sekali. Dua kali. Lalu berulang setiap kali seorang anak menyelesaikan penampilannya. 

 

Rasa penasaran membawanya mendekat. Di atas panggung, seorang bocah berusia sekitar 10 tahun baru saja mengangkat mikrofon. Sebelum musik diputar, anak itu menoleh ke arah penonton dan dewan juri, lalu mengucapkan salam dengan suara lantang. Beberapa pengunjung membalas salamnya sambil tersenyum. Tak lama kemudian intro lagu Naik Kereta Api ciptaan Ibu Sud alias Saridjah Niung mengalun. Anak yang dalam tulisan ini disamarkan dengan nama Arka itu mulai bernyanyi. Ia berjalan dari sisi kanan ke sisi kiri panggung, sesekali melambaikan tangan kepada orang-orang yang berdiri di depan panggung. Tepuk tangan kembali terdengar ketika lagu berakhir.

 

Bagi Hilman, tepuk tangan itu terasa berbeda. Bukan karena suara yang lebih meriah daripada penampilan sebelumnya, melainkan karena wajah-wajah di sekelilingnya. Orang-orang yang semula datang untuk berbelanja tiba-tiba berhenti, ikut tersenyum, mengangkat telepon genggam, lalu memberikan apresiasi kepada anak-anak yang bahkan tidak mereka kenal.

 

"Saat itu, saya senang dan terharu sekali melihat mereka akhirnya punya wadah untuk menunjukkan bakat," kata Hilman mengenang momen akhir tahun lalu, Sabtu (18/7/2026).

 

Waktu itu Hilman belum mengetahui bahwa anak yang baru saja menyanyikan lagu Naik Kereta Api tersebut menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar menuntaskan sebuah lagu di atas panggung.

 

"Menurut saya mewah sekali mereka bisa tampil di sini. Yang menonton bukan cuma guru atau orang tua, tapi masyarakat umum juga," tambah Hilman.

 

Hal yang tidak diketahui Hilman, penampilan singkat itu bukanlah tentang siapa yang paling merdu menyanyikan lagu atau siapa yang berhak membawa pulang piala. Bagi sebagian anak yang siang itu bergantian tampil, keberanian melangkah ke depan ratusan orang sudah menjadi kemenangan yang tak bisa diukur dengan medali. Arka adalah salah satunya.

 

Tak ada yang tampak istimewa dari caranya turun dari panggung. Ia tersenyum, melambaikan tangan sekali lagi ke arah penonton, lalu berlari kecil menuju sisi panggung. Di sana, seorang perempuan telah menunggunya sejak awal penampilan. Perempuan itu langsung memeluk Arka erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya.

 

Beberapa detik kemudian, air mata perempuan itu jatuh. Bukan karena lagu Naik Kereta Api yang baru saja selesai dinyanyikan putranya. Bukan pula karena Arka gagal naik ke podium juara. Air mata itu lahir dari perjalanan panjang yang tak pernah disaksikan orang-orang yang siang itu ikut bertepuk tangan.

 

Begitu Arka menghampirinya, perempuan yang merupakan ibu kandungnya itu segera mencari guru pendamping putranya. Suaranya bergetar ketika mengucapkan rasa terima kasih yang selama ini ia simpan.

 

"Terima kasih banyak, Bu. Arka sekarang jadi jauh lebih percaya diri. Dulu dia selalu ketakutan kalau melihat kerumunan orang. Sekarang dia berani tampil seperti ini. Terima kasih atas semua bimbingannya," kata ibunya saat itu. 

 

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi sang ibu, setiap katanya membawa kembali ingatan pada hari-hari ketika mengajak Arka keluar rumah saja bukan perkara mudah. Berdiri di atas panggung, menyapa penonton, lalu bernyanyi dengan riang di tengah pusat perbelanjaan adalah sesuatu yang dahulu nyaris tak pernah ia bayangkan.

 

Arka adalah seorang anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Bagi anak-anak dalam spektrum autisme, keramaian pusat perbelanjaan sering kali menjadi tantangan tersendiri. Suara musik yang saling bertumpuk, sorot lampu, hingga lalu-lalang pengunjung dapat memicu kelelahan sensorik dan kecemasan. Karena itu, keberanian Arka menyapa penonton dan berjalan mengelilingi panggung bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Di balik penampilan singkat itu, ada proses panjang yang dibangun melalui latihan, pendampingan, dan kepercayaan diri yang tumbuh sedikit demi sedikit.

 

Hari itu Arka memang pulang tanpa membawa piala juara. Namun ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, keyakinan bahwa dirinya mampu berdiri di tengah keramaian, didengar, disambut, dan diapresiasi oleh orang-orang yang bahkan belum pernah mengenalnya.

 

Pemandangan itulah yang sudah tiga kali disaksikan Imas Hartati, S.Psi., Manager Stimulus Sekolah Alam Karawang. Selama tiga tahun berturut-turut, lembaganya dipercaya untuk menyelenggarakan Lomba Inklusi di KCP Mall, sebuah kegiatan yang memberikan ruang bagi anak-anak disabilitas untuk menunjukkan bakat di hadapan masyarakat luas.

 

"Kalau ditanya apa yang paling membahagiakan, jawabannya bukan ketika mereka membawa pulang piala. Yang paling membahagiakan justru ketika mereka berani naik ke panggung, berani memperlihatkan kemampuan mereka, lalu pulang dengan rasa percaya diri yang tumbuh," kata Imas, Jumat (17/7/2026).

 

Menurut Imas, anak-anak disabilitas memiliki potensi yang luar biasa. Salah satu hal penting yang mereka butuhkan adalah kesempatan dan lingkungan publik yang mau menerima mereka.

 

"Alhamdulillah, KCP Mall selalu memberikan dukungan terbaiknya dalam membantu menciptakan iklim inklusivitas di Kabupaten Karawang lewat konsistensi ruang ini," ungkap Imas.

 

Bagi Imas, panggung di lantai dasar Techno Mart (KCP Mall 2) mempertemukan anak-anak disabilitas dengan masyarakat yang lebih luas. Ketika mereka tampil di tempat yang ramai, masyarakat tidak lagi hanya melihat keterbatasan, melainkan menyaksikan kemampuan yang selama ini mungkin tersembunyi. Pada momen itulah proses inklusi berjalan secara alami. Pengunjung yang awalnya datang untuk berbelanja, tanpa direncanakan menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang mempertemukan mereka dengan anak-anak yang memiliki cara berbeda dalam tumbuh dan berkembang.

 

Ketua Pelaksana peringatan Hari Disabilitas Internasional tingkat Kabupaten Karawang kali ketiga yang diselenggarakan di KCP Mall, Rafa Farhani, S.Pd., mengamini hal tersebut. Menurutnya, atmosfer pusat perbelanjaan memberikan dampak publikasi yang jauh lebih masif.

 

"Lokasinya strategis dan ramai, sehingga misi kami untuk mengenalkan gerakan ini kepada masyarakat luas bisa tercapai," kata Rafa, Jumat (17/7/2026).

 

Meski demikian, Rafa memberikan catatan agar fasilitas fisik yang ramah disabilitas, seperti performa layar digital dan penataan area, terus dioptimalkan ke depan agar peserta maupun pengunjung berkebutuhan khusus dapat beraktivitas dengan lebih nyaman. Sebab, inklusivitas bukan hanya tentang membuka pintu, tetapi juga memastikan setiap orang di dalamnya merasa aman.

 

Catatan dari Rafa mengenai kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 26 November 2025 lalu itu menjadi refleksi penting bagi pengelolaan ruang publik. Bagi manajemen KCP Mall sendiri, memberi ruang bagi aksi inklusif semacam ini bukan sekadar agenda tempelan atau aksi sosial sesaat. Langkah ini adalah bagian dari transformasi besar fungsi mal yang tak lagi cuma jadi tempat transaksi jual-beli, melainkan ruang terbuka yang hidup di tengah pesatnya modernisasi daerah.

 

Ruang publik seperti itulah yang perlahan membentuk identitas baru KCP Mall. Ia tak lagi berdiri sendiri sebagai pusat perbelanjaan, melainkan tumbuh bersama kawasan Galuh Mas, Desa Sukaharja, yang dalam satu dekade terakhir berkembang menjadi salah satu simpul pertumbuhan baru di Kecamatan Telukjambe Timur.

 

Perubahan wajah kawasan itu tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Karawang melalui laporan Kecamatan Telukjambe Timur Dalam Angka Tahun 2025 yang menunjukkan Telukjambe Timur kini dihuni sekitar 148.145 jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 3.952 jiwa per kilometer persegi. Di balik angka tersebut tersirat geliat sebuah kawasan yang terus berkembang sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan jasa di Kabupaten Karawang.

 

Meningkatnya populasi ini berjalan beriringan dengan melejitnya arus investasi di Kabupaten Karawang. Berdasarkan data Kabupaten Karawang Dalam Angka 2025 dari BPS Karawang, realisasi investasi daerah melompat signifikan dalam lima tahun terakhir, dari Rp16,74 triliun pada 2020 menjadi Rp68,54 triliun pada 2024. Perkembangan tersebut sejalan dengan kajian Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada yang mencatat kawasan Galuh Mas berkembang dari kawasan pertanian menjadi pusat permukiman dan komersial.

 

Kajian lain dari Universitas Komputer Indonesia juga menunjukkan Telukjambe Timur mengalami transformasi ruang melalui berkembangnya sektor perdagangan dan jasa yang mendorong aktivitas ekonomi kawasan. Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, multiplier effect pun mulai dirasakan masyarakat melalui tumbuhnya berbagai usaha pendukung, seperti rumah kos, kedai kopi, rumah makan, hingga berbagai layanan jasa lainnya.

 

Di tengah derasnya arus investasi dan perubahan lanskap daerah itulah, KCP Mall yang memasuki usia ke-14 pada 2026 terus berupaya menegaskan perannya. Bagi manajemen, pusat perbelanjaan tak lagi cukup hanya menjadi tempat bertransaksi, melainkan juga ruang yang mempertemukan komunitas, keluarga, hingga berbagai kegiatan sosial, termasuk Lomba Inklusi yang menghadirkan anak-anak disabilitas di hadapan masyarakat luas. Building Manager KCP Mall, Rizki Setiawan, mengatakan perubahan itu menjadi bagian dari upaya mal menjawab kebutuhan pengunjung yang terus berkembang.

 

"Kalau dulu orang datang ke mal memang untuk belanja. Sekarang perilaku masyarakat berubah. Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan deretan toko. Mal hari ini harus menjadi ruang interaksi. Tempat orang berkumpul, menikmati suasana, menghadiri kegiatan, bertemu komunitas, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga," ujar Rizki, Rabu (15/7/2026) lalu.

 

Cara pandang inilah yang mendorong KCP Mall melakukan revitalisasi secara bertahap, mulai dari penataan ulang komposisi gerai yang disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung hingga penguatan fungsi ruang sebagai tempat berkegiatan bersama. Karena itu, area yang sebelumnya identik dengan aktivitas belanja kini juga dimanfaatkan oleh komunitas, lembaga pendidikan, maupun berbagai organisasi untuk menghadirkan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

 

Hal senada diungkapkan Marcomm Manager KCP Mall, Fandi Aditya. Menurutnya, di tengah pergeseran gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, pengalaman visual dan sosial menjadi alasan utama mereka datang langsung ke mal.

 

"Dulu orang datang ke mal untuk membeli barang. Sekarang mereka datang untuk mencari pengalaman," kata Fandi, Rabu (8/7/2026) lalu.

 

KCP Mall mencoba menjawab tantangan ini dengan memperkuat sektor kuliner dan gaya hidup, tanpa kehilangan karakternya sebagai family mall yang merangkul berbagai lapisan masyarakat. Strategi besarnya tidak lagi bertumpu pasif pada transaksi dagang, melainkan pada kolaborasi aktif.

 

"Kami tidak bisa hanya mengandalkan tenant. Kegiatan yang sifatnya event dan kolaborasi dengan komunitas, termasuk kegiatan sosial, itu yang bisa menjadikan kita lebih sustainable," tegas Fandi.

 

Melalui ruang kreatif inilah, KCP Mall memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem kawasan terpadu Galuh Mas. Dengan angka kunjungan akhir pekan yang mencapai 30 ribu hingga 40 ribu orang, mal ini tidak ingin sekadar menjadi tempat singgah, melainkan ruang yang memiliki ikatan emosional dengan masyarakat.

 

"Empat belas tahun bukan perjalanan yang sebentar. Kalau hari ini kami bisa sampai di sini, itu bukan karena kami bekerja sendiri. Ada tenant, komunitas, media, dan tentu saja masyarakat Karawang yang bersama-sama membesarkan KCP. Harapan kami sederhana, semoga KCP Mall bisa menjadi rumah kedua bagi masyarakat," tambah Fandi. 

 

Pertumbuhan kawasan Galuh Mas yang terus berkembang menjadi pusat perdagangan dan jasa menunjukkan bahwa kehadiran KCP Mall bukan sekadar menghadirkan ruang belanja, tetapi ikut membentuk aktivitas ekonomi baru di sekitarnya. Perputaran usaha tersebut tidak hanya dirasakan oleh tenant di dalam pusat perbelanjaan, tetapi juga sektor pendukung seperti kuliner, jasa, hingga hunian di kawasan sekitar. Aktivitas ekonomi itu pada akhirnya berkontribusi terhadap penerimaan pajak daerah yang menjadi sumber pembiayaan pembangunan Kabupaten Karawang.

 

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Karawang, Sahali Kartawijaya, mengatakan pusat-pusat aktivitas ekonomi seperti KCP Mall menjadi salah satu simpul penting dalam pembentukan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kontribusi tersebut berasal dari berbagai jenis pajak daerah, mulai dari Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), pajak parkir, pajak reklame, hingga berbagai kewajiban perpajakan lain yang dipenuhi para pelaku usaha dan tenant.

 

"Setiap rupiah pajak yang dibayarkan tidak sekadar masuk ke kas daerah, tetapi kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan jalan, peningkatan layanan kesehatan, fasilitas pendidikan, penataan ruang publik, hingga berbagai pelayanan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh warga," ujar Sahali, Minggu (19/7/2026).

 

Menurutnya, pembangunan daerah pada hakikatnya merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat. Pemerintah merancang dan melaksanakan program pembangunan, sementara dunia usaha mengambil peran melalui kepatuhan menjalankan kewajiban perpajakan. Sinergi itu menjadi fondasi penting agar pembangunan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.

 

Bagi Sahali, keberadaan pusat perbelanjaan modern tidak hanya menciptakan denyut ekonomi melalui aktivitas perdagangan dan penyerapan tenaga kerja. Ketika ruang tersebut juga membuka diri bagi kegiatan sosial, pendidikan, seni, hingga inklusi seperti yang berlangsung di KCP Mall, manfaat yang dihadirkan menjadi semakin luas. Ruang yang sama tidak hanya menggerakkan perekonomian, tetapi juga mempertemukan masyarakat, menumbuhkan kepedulian, dan pada akhirnya ikut membangun kualitas kehidupan di Kabupaten Karawang.

 

Pada akhirnya, pembangunan Karawang tak hanya diukur dari angka-angka PAD atau megahnya fasilitas publik, melainkan dari seberapa hangat Karawang merangkul setiap warganya. Harapan tersebut seolah berkelindan erat dengan apa yang terjadi di panggung kecil Techno Mart beberapa waktu lalu. Di tengah riuh rendah semarak perayaan EUPHOR14 yang membawa beragam kemeriahan ke KCP Mall, panggung inklusi itu menjadi salah satu sudut yang paling menyentuh.

 

Siang itu, tepuk tangan yang Hilman dengar di lantai dasar Techno Mart bukan lagi sekadar penghargaan untuk sebuah lagu. Tepuk tangan itu mengiringi seorang anak yang pulang tanpa membawa piala, tetapi membawa keyakinan bahwa dirinya mampu berdiri di tengah keramaian, dilihat, didengar, dan diterima.

 

Barangkali, bagi Arka, itulah arti kemenangan. Ketika masyarakat mau berhenti sejenak dan memberikan perhatian. Di situlah Karawang tumbuh dan belajar menjadi lebih inklusif dan merawat kemanusiaan dari sebuah tepuk tangan.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: