Kabari, Tempat Tubuh Akhirnya Didengar & Cerita dari Lantai 2
Melalui KABARI, aku mendekatkan diri. Aku ingin jadi tempat yang bukan hanya dikunjungi saat sakit, tapi juga saat tubuh mulai berbicara melalui sinyal nyeri.--
KARAWANG - Aku tidak pernah duduk, tidak pernah jongkok, apalagi lari. Tapi aku sering dengar rasa ngilu di lutut, kaku di leher, bahkan pegal yang merambat dari pinggang sampai ujung kaki. Karena setiap hari, tubuh yang kesakitan datang padaku.
Akhir-akhir ini, ada yang berubah. Mereka yang datang bukan lagi para pensiunan, bukan lagi bapak-bapak yang hobi angkat galon, atau ibu-ibu penggemar senam. Yang kini sering duduk di bangku tungguku adalah anak-anak muda yang datang sambil menahan nyeri sendi, dengan wajah bingung dan kalimat pembuka yang selalu sama: "Kok lutut saya kerasa sakit ya?"
"Akhirnya kalian dengar juga suara tubuh sendiri," kataku bergumam.
Salah satu ceritaku datang dari Lantai 2, tempat program Skrining Gratis Nyeri Lutut dan Sendi diadakan setiap hari Rabu sepanjang Juli tahun ini. Sudah dua pekan berjalan, dan aku perhatikan, tren pengunjungnya makin muda. Usia dua puluhann, bahkan ada yang baru saja lulus sekolah.
Beberapa datang karena pegal ringan. Beberapa lainnya karena nyeri yang tidak kunjung hilang. Mereka pikir ini hal sepele. Tapi setelah diperiksa oleh tim medis mulai dari perawat, fisioterapis, dokter umum, sampai dokter spesial, baru sadar, tubuh mereka sudah lama minta perhatian.
Aku ingat satu pasien muda, laki-laki, wajahnya tampak sehat, tapi duduk sambil memegangi lutut. Katanya jurnalis, nyeri sejak dua bulan terakhir, makin sering muncul saat naik tangga. Ia pikir itu cuma kecapekan. Tapi begitu bertemu Mbak Sekar, kepala tim Rehabilitasi Medik, ekspresinya berubah.
“Nyeri itu sinyal, ia datang sebagai bagian tubuh yang bicara,” kata Sekar padanya, Rabu (9/7/2025).
Aku suka cara Sekar berbicara. Tegas, tapi lembut. Ia tahu betul bahwa anak muda tidak terbiasa mendengarkan tubuh. Terlalu sibuk, terlalu cepat, dan terlalu mengandalkan pijat, koyo, atau kerokan sebagai solusi universal.
Padahal, seperti yang Sekar bilang, nyeri yang dirasa ringan bisa menjadi awal dari masalah yang lebih dalam. Misalnya, saat merasa lega setelah dipijat keras, yang sebenarnya terjadi adalah tubuh dipaksa melepas "trigger" dalam skala lebih besar. Rasa ringan itu semu. Sering kali justru merusak jaringan lebih jauh.
Supervisor Pelayanan Medis, dr. Ina menjelaskan bahwa nyeri dibagi dua jenis: Akut, yang berlangsung kurang dari dua minggu dan Kronik, yang sudah menetap lebih dari tiga bulan.
Sayangnya, mayoritas pasien datang ketika nyerinya sudah kronik. Bukan karena malas, tapi karena terbiasa mengabaikan. Mungkin karena masih muda, jadi merasa tubuh akan sembuh sendiri.
“Kalau datang di tahap akut, banyak yang bisa selesai dengan obat ringan, terapi fisik, atau edukasi. Tapi kalau sudah kronik, kami perlu lakukan manajemen nyeri, bahkan operasi," kata dr. Ina, Rabu (9/7/2025)
Aku tahu, kedengarannya berat. Tapi tidak semua harus sampai ke tahap pembedahan. Di sinilah aku bangga karena bisa membantu. Di dalam tubuhku, aku menyediakan pendekatan penanganan nyeri dalam empat tahap: preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif.
Di tahap preventif, kami punya layanan injeksi secretome—terapi berbasis sel untuk memperbaiki jaringan dan membuat usia sel menjadi lebih muda. Cocok untuk kalian yang merasa “cepat rusak” di usia muda akibat gaya hidup.
Kalau sudah masuk tahap kuratif, kami bantu dengan obat, terapi modalitas, atau teknik canggih seperti injeksi radiofrekuensi. Ini bisa memblokir nyeri sampai enam bulan. Tapi seperti yang dr. Ina bilang, "Kalau gaya hidup tidak berubah, nyerinya bisa kembali lebih cepat."
Kemudian masuklah tahap rehabilitatif, yang banyak dilakukan oleh tim fisioterapi. Di sinilah tempat aku melihat keajaiban kecil setiap hari.
Ruang fisioterapiku penuh alat, dari elektroterapi, eksersai ringan, sampai water therapy alias hydrotherapy. Kolamnya di dalam ruangan, bersuhu 38–40 derajat, airnya jernih tanpa bahan kimia, disaring otomatis tiap 15 menit, dan satu-satunya di Karawang.
Lewat hydrotherapy, pasien bisa latihan tanpa merasa nyeri—cocok untuk pemulihan pasca-cedera, stroke, hingga keluhan sendi ringan yang sering kalian anggap enteng, bahkan lansia pendertia stroke sekalipun, bisa dibantu alat lifter untuk mobilisasi tubuh.
Aku lihat sendiri, banyak yang datang dengan langkah pelan dan wajah cemas, lalu keluar dengan semangat baru. Bahkan tak sedikit pasien yang setelah beberapa sesi bisa pulih lebih cepat.
Bagian terakhir dari penanganan nyeri adalah promotif: edukasi. Di sinilah timku, lewat perawat, customer service, dokter, dan terapis, selalu sabar menjelaskan dari mana sumber nyeri, harus ke poli mana, latihan apa yang bisa dilakukan di rumah, hingga bagaimana postur duduk yang benar.
Kami juga punya grup WhatsApp Kabari Lira, tempat kalian bisa konsultasi, tanya jadwal dokter, bahkan diskusi ringan soal nyeri dan gaya hidup. Kalian tinggal masuk dan belajar.
Aku bangga melihat makin banyak anak muda datang bukan hanya untuk sembuh, tapi untuk mengerti tubuhnya sendiri.
Suatu hari, datang seorang ibu bernama Atin Maryati, 55 tahun, dari PORPI (Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia) Ranting Klari, Kabupaten Karawang. Ia datang bersama rombongan, ikut skrining, dan pulang dengan wajah puas.
“Tadi saya dikasih tahu ini nyerinya karena sendi, bukan otot. Ada juga teman saya yang disarankan rontgen. Jadi jelas,” kata Atin, Rabu (9/7/2025).
Aku tersenyum juga dalam diam. Karena bukan soal usia. Mau 20 atau 55, tubuh tetap butuh didengar. Yang penting, kalian mau berhenti sejenak dan memberi ruang untuk rasa.
Jadi, jika suatu hari lututmu ngilu, bahumu terasa berat, atau lehermu mulai enggan menengok ke kanan, jangan buru-buru menyalahkan bantal, angin malam, atau nasi padang. Duduklah sejenak. Dengarkan. Kalau perlu, datanglah padaku.
Namaku Lira Medika. Aku rumah sakit swasta kelas B di Jalan Raya Syeh Quro No.14, Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Mudah diakses, baik kendaraan roda dua, roda empat, maupun kendaraan umum. Aku berdiri dengan dinding kokoh, AC sentral, dan lantai yang selalu dipel setiap pagi. Sering jadi rujukan rumah sakit lain. Tapi lebih dari itu, aku adalah rumah bagi tubuh-tubuh yang mulai didengarkan pemiliknya.
Seperti yang dijelaskan oleh Manajer Marketing Komunikasi RS Lira Medika, Tommy Adriansyah, nyeri kronis bukan hal sepele, bahkan telah mempengarhui sepertiga penduduk dunia.
“Nyeri kronis mempengaruhi lebih dari sepertiga penduduk dunia, sehingga tidak boleh dianggap remeh. Kondisi ini sering menurunkan kualitas hidup dan produktivitas pasien," terang Tommy, pada Rabu (9/7/2025).
Tommy juga menyebut bahwa sekitar 15 persen penduduk usia produktif (25–55 tahun) mengalami keluhan nyeri kronis akibat aktivitas fisik berat, pekerjaan pabrik, atau kecelakaan. Namun sayangnya, banyak yang mengabaikan gejala awal seperti nyeri ringan, kesemutan, atau kaku sendi, hingga akhirnya kondisi menjadi parah.
Di Karawang, angka ini sangat relevan. Menurut data BPS tahun 2023, 40 persen penduduk bekerja di sektor industri, seperti manufaktur, otomotif, dan elektronik yang semuanya berisiko tinggi mengalami cedera fisik dan gangguan sendi.
Menyadari hal itu, aku, RS Lira Medika meluncurkan program Kabari alias Karawang Bebas Nyeri, sebuah inisiatif komprehensif yang mencakup pendekatan preventif, kuratif, rehabilitatif, edukatif, dan promotif. Tujuannya sederhana tapi penting, memberikan solusi nyeri yang menyeluruh untuk warga Karawang dan sekitarnya, agar mereka bisa mendapatkan penanganan tepat, sedini mungkin. Tentu layanan ini juga bisa diakses oleh pasien BPJS, maupun asuransi, serta umum, sesuai dengan mekanisme masing-masing jalur.
Melalui Kabari, aku mendekatkan diri. Aku ingin jadi tempat yang bukan hanya dikunjungi saat sakit, tapi juga saat tubuh mulai bicara pelan. Saat kamu masih bisa mencegah sebelum mengobati.
Tommy juga menyampaikan harapan besar lewat program ini untuk dapat diterima dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Karawang dan sekitarnya.
“Kami berharap program Kabari dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Karawang dan sekitarnya, sehingga warga lebih mudah mengakses layanan penanganan nyeri berkualitas."
Dengan diluncurkannya Kabari, aku berkomitmen untuk terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Karawang, terutama dalam penanganan nyeri yang tepat, manusiawi, dan terpercaya.
Karena tubuh selalu tahu lebih dulu. Di sinilah aku, siap mendengar bersama kalian. Kabari, jadi lebih mudah bersama RS Lira Medika.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: