DERITA TIADA AKHIR, Kabupaten Bekasi Terus di Bawah Tekanan

DERITA TIADA AKHIR, Kabupaten Bekasi Terus di Bawah Tekanan

Banjir Bekasi-Kbe-Kbe

ENTAH apa yang sedang diuji Kabupaten Bekasi di awal 2026. Di saat pemerintahan daerah diguncang kasus hukum yang menjerat bupati, bencana alam justru datang bertubi-tubi.

Banjir tak kunjung surut, terutama di wilayah utara, menjadikan Bekasi seolah berada dalam pusaran persoalan yang saling bertaut.

Ironisnya, Bekasi dijepit tiga sumber banjir sekaligus. Pertama, di wilayah selatan dan tengah, banjir disebabkan kiriman dari Bogor dan berbagai daerah lainnya.

BACA JUGA:Warga Cikampek dan Sekitarnya Makin Mudah dan Dekat, MPP Cikampek Sudah Diresmikan

Kedua, banjir disebabkan hujan lebat yang mengguyur seluruh wilayah hingga membuat debit air sungai kian meningkat.

Ketiga, banjir rob di wilayah utara yang membuat masyarakat kian merana. Utara merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan pantai utara sekaligus menjadi muara Citarum.

Sehingga ketika debit sungai tinggi, air laut yang berbalik ke daratan pun tak kalah tinggi. Dari sejak Januari hingga Rabu (4/2/2026), banjir masih merendam di sejumlah titik. 

BACA JUGA:Tragedi Pahit di Republik MBG, Anak SD Gantung Diri karena Tak Bisa Beli Pulpen

Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja mengatakan telah menggandeng sejumlah pihak untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Apalagi, mayoritas banjir disebabkan luapan sejumlah sungai di Bekasi.

“Dari atas, dari hulu, aliran air sangat deras ke Kabupaten Bekasi. Di wilayah kita hujan juga tidak berhenti, dan di hilir ada banjir rob. Jadi kita tidak bisa menyalahkan hujan, yang harus kita lakukan adalah mencari solusi bagaimana ke depan kita bisa lebih siap dan mampu mengantisipasi banjir,” kata dia usai rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta perangkat daerah terkait, di Ruang Rapat Mamun Nawawi, Gedung Bupati Bekasi, Cikarang Pusat, Rabu (4/2/2025).

BACA JUGA:Tukin Tidak Adil dan Menggerus Profesionalisme Dosen dan Masa Depan Pendidikan

Dari hasil rapat tersebut, diketahui terdapat puluhan titik tanggul yang kritis hingga jebol. Kondisi ini yang memicu banjir semakin parah karena aliran sungai meluap merendam ribuan rumah warga hingga ketinggian di atas satu meter.

Asep memaparkan sejumlah wilayah yang menjadi perhatian utama, khususnya di sepanjang Sungai Citarum dan Kali Bekasi. Untuk Sungai Citarum, wilayah terdampak seperti Kecamatan Muaragembong, Cabangbungin, dan Pebayuran selama ini sering mengalami banjir akibat luapan sungai dan kegagalan fungsi tanggul. 

Sementara itu, tantangan di kawasan Kali Bekasi semakin kompleks akibat perubahan fungsi lahan yang mengurangi ruang tampung air. Sejumlah area yang sebelumnya berfungsi sebagai lahan pertanian kini telah berkembang menjadi kawasan permukiman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: