“Kalau indikator kinerja rendah, serapan minim, dan pengawasan longgar, untuk apa rakyat menggaji mereka setiap bulan?” sindir Dr. Rafi Nugraha, pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran.
Dengan sederet catatan buruk tersebut, DPRD Jabar kini dihadapkan pada tuntutan besar untuk melakukan introspeksi.
Namun publik pesimistis: tanpa perubahan mendasar pada mentalitas dan komitmen anggota dewan, Jawa Barat akan terus tertinggal bukan karena kurang potensi, tapi karena lembaga legislatifnya kehilangan arah.***