BACA JUGA:Rayakan Momen Istimewa, Harper Cikarang Hadirkan Paket Kuliner Spesial
“Istri sudah saya ungsikan ke tempat neneknya. Kalau malam saya tidak pernah tidur karena harus jagain anak yang masih kelas V SD,” ucap Hostoba di Tambun Utara.
Hostoba menceritakan detik-detik mencekam saat erosi yang memicu longsor mulai merenggut rumahnya. Kamis (29/1) siang, ia tengah beristirahat di rumah sebelum berangkat kerja malam. Teriakan warga mendadak membangunkannya.
“Kejadian siang, saya lagi di rumah karena kerja malam. Panik, takut. Saya langsung keluar rumah, pohon itu udah miring. Lalu semua warga udah keluar dari rumah,” katanya.
BACA JUGA:Dion Datang, Lini Belakang Persib Makin Mewah
Menurut Hostoba, longsor yang membawa tumbangnya satu pohon besar itu dipicu kenaikan debit air Kali Bekasi secara drastis dalam waktu singkat. Arus deras menghantam dinding tanah di sisi rumahnya hingga tak mampu lagi menahan tekanan air.
“Kejadian awalnya debit air Kali Bekasi waktu itu tinggi banget. Kayak mau penuh begitu, jadi airnya deras dari sebelumnya kecil. Ya, lama-lama pohon itu turun, ke bawa air,” terang Hostoba.
Meski rumahnya kini berada dalam kondisi kritis dan tak lagi memiliki sanitasi, Hostoba memilih bertahan. Ia menempati satu-satunya ruangan tersisa yang sebelumnya berfungsi sebagai ruang tamu, kini disulap menjadi kamar tidur beralas kasur. Di ruangan itu, ia beristirahat bersama dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
BACA JUGA:Pemkab Bekasi Dukung Rencana Induk Pembangunan Aglomerasi Jakarta
Rasa khawatir kerap menghantui setiap malam, namun keterbatasan ekonomi membuatnya enggan pindah. Rumah tersebut merupakan satu-satunya harta yang bisa ia tinggalkan untuk masa depan anak-anaknya.
“Hancur, udah beberapa kali longsor. Sekarang semua sudah tidak ada, dapur, kamar tidur, kamar mandi. Tinggal satu ruang tamu ini yang saya jadikan kamar tidur,” katanya.
Sementara itu, Ketua RT 03 RW 06 Kampung Kompa, Murdani, menyebut ada enam rumah terdampak longsor akibat pengikisan tanah di wilayahnya. Ia menyebut kejadian kali ini sebagai yang terparah karena struktur tanah telah terkikis hingga lapisan cadas.
BACA JUGA:Tak Tahan Kondisi Jalan Dibiarkan Rusak Pemerintah Pusat, Warga Karawang Gelar Aksi di Tengah Jalan
“Dulu itu jarak dari rumah ke bantaran Kali Bekasi ini sekitar 13 meter. Kalinya sendiri lebarnya 55 meter. Jadi rumah ini sebenarnya jauh sekali dari air. Dulu tanahnya berbukit-bukit, tapi habis karena dikikis terus oleh Kali Bekasi,” terang Murdani.
Murdani menjelaskan, peristiwa diawali tumbangnya pohon-pohon besar di bantaran sungai akibat derasnya arus. Setelah debit air surut, tanah yang tersisa langsung ambles.
“Pohon tumbang dulu karena debit air kan deras. Setelah agak mengering, langsung ambles itu tanahnya. Karena tanah dasarnya cadas, langsung sekaligus tumbang. Kejadiannya bertahap dari satu titik, lalu merembet ke titik lainnya,” jelasnya.