Kalau Bukan Kita, Siapa yang Jaga Cikarang?

Senin 23-02-2026,23:28 WIB
Reporter : Risky Pangestu
Editor : Ilham Prayogi

 

Pertumbuhan pesat selalu membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, lapangan kerja terbuka. Di sisi lain, kesenjangan sosial bisa melebar.

 

Tidak semua warga merasakan manfaat yang sama dari geliat industri. Ada yang hidupnya meningkat, ada pula yang terpinggirkan. Jika kesenjangan ini tak dikelola dengan bijak, potensi konflik sosial terbuka lebar.

 

Fenomena tawuran remaja, balap liar, hingga kenakalan yang meningkat di sejumlah titik adalah alarm keras. Generasi muda yang seharusnya menjadi aset masa depan justru terancam kehilangan arah.

 

Menjaga Cikarang berarti juga menjaga anak-anak mudanya. Memberi ruang kreativitas, menyediakan sarana olahraga, memperkuat pendidikan karakter, dan menghadirkan figur teladan.

 

Kita tidak bisa hanya bangga pada pabrik-pabrik besar, tapi lalai membangun manusia di sekitarnya.

 

Isu penyelamatan aset daerah yang berada di luar wilayah administratif Kabupaten Bekasi, misalnya di Kota Bekasi, juga menjadi refleksi penting. Aset milik publik adalah milik rakyat. Jika tidak dijaga, ia bisa hilang, terbengkalai, atau dimanfaatkan tidak optimal.

 

Ketika pemerintah berupaya menyelamatkan dan mengoptimalkan aset untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, masyarakat seharusnya ikut mengawasi dan mendukung. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci.

 

Karena pada akhirnya, setiap rupiah yang masuk ke kas daerah seharusnya kembali ke rakyat dalam bentuk pelayanan yang lebih baik.

Kategori :

Terkait