Iman memilih untuk tidak mengubah Warteg Warmo secara drastis. Ia justru merawat bangungan Warmo dengan melakukan perbaikan bertahap agar Warteg Warmo terasa lebih nyaman.
“Saya tidak banyak ubah karena saya ingin mempertahankan Warmo sebagaimana mula nya. Akan tetapi ada pembaruan di beberapa titik seperti cat ulang, mengganti furnitur yang sudah cukup tua sehingga pelanggan nyaman untuk makan di sini,” jelas Iman.
Dari sisi menu, hidangan andalan yang telah lama dikenal pelanggan setia tetap dipertahankan. Di saat yang sama, Iman menambahkan beberapa pilihan menu yang lebih selaras dengan selera pelanggan muda di sekitar Tebet.
“Saya memutuskan untuk mempertahankan menu-menu khas Warmo yang sudah jadi andalan, seperti sop iga. Tapi saya juga menambahkan beberapa menu baru supaya tetap relevan buat pelanggan anak muda misalnya chicken teriyaki atau katsu. Selain itu juga terdapat paket-paket menu yang sudah termasuk es teh. Harapannya, strategi ini bisa menarik pelanggan baru tanpa menghilangkan ciri khas Warmo.”
Tantangan Operasional yang Tak Terlihat Pelanggan
Di balik ramainya pelanggan, tantangan datang dari operasional harian. Awal perjalanan Iman dalam mengelola Warmo, transaksi masih mengandalkan tunai dan pencatatan manual.
“Kami menggunakan metode pembayaran tunai dan pencatatan manual selama 6 bulan pertama. Sebelumnya pun pemilik lama juga menggunakan sistem yang sama,” kata Iman.
BACA JUGA:KONI: Pembukaan Barikade Jalan Soka Ancam Standarisasi Zona Olahraga Stadion Singaperbangsa
Alhasil, pembukuan sering tidak rapi dan rawan selisih mulai dari saldo yang tidak sesuai dengan uang yang diterima, hingga sulitnya melacak pemasukan harian secara detail, terutama saat volume transaksi meningkat.
“Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan. Waktu itu pembukuannya belum rapi, masih pakai catatan sendiri, jadi sering nggak balance pas dicek di akhir bulan atau akhir tahun. Saldo sama pencatatan debit–kredit juga kadang belum ketemu,” lanjut Iman.
Lebih lanjut lagi, apabila warung sedang ramai pelanggan, pencatatan pun jadi sering tidak akurat dan masalah lainnya adalah kembalian.
Mencari Solusi, Membuka Diri pada Digital
Menghadapi tantangan tersebut, Iman mulai mencari cara agar pengelolaan usaha dari berbagai sumber mulai aktif ikut seminar dan berdiskusi dengan teman. Iman pun tidak langsung mengambil keputusan.
“Saya cukup lama menghabiskan waktu untuk riset mandiri, mulai dari membaca ulasan di Google hingga menonton pengalaman pemilik usaha lain di YouTube. Selain itu, ia juga berdiskusi langsung dengan teman sesama pelaku usaha yang sudah lebih dulu menggunakan layanan serupa,”
BACA JUGA:PKB Ingatkan Aep Maslani Pertimbangkan Program Satu Miliar Satu Desa
Dari berbagai pertimbangan tersebut, Iman akhirnya memilih DANA Bisnis. Beberapa faktor yang menjadi penentu adalah laporan keuangan real-time yang memudahkan pemantauan, biaya Merchant Discount Rate (MDR) yang kompetitif sebesar 0,7%, serta proses pendaftaran yang cepat dan praktis. “Setelah cari tahu banyak aplikasi, menurut saya, DANA Bisnis itu lengkap dan detail. Jadi bisa bantu meminimalisir kesalahan dan nggak pusing kembalian,” tambahnya.