Tiga mahasiswa yang menerima beasiswa itu yakni Aurelia Gracelyn Saputro, Devin Raditya Syarief, dan Mohammad Dylan Bahtiar. Bantuan tersebut mengutamakan kesetaraan akses terhadap pendidikan berkualitas.
Sylvia mengatakan, proses pemberian beasiswa memiliki pendekatan yang berbeda dari program beasiswa pada umumnya. Alumni melihat kebutuhan setiap kandidat, terutama kondisi kesulitan finansial yang mereka hadapi.
"Jadi beasiswa kita ini memang sangat berbeda dari pemberi beasiswa yang lain. Kita mengutamakan kesetaraan akses terhadap pendidikan berkualitas," kata Sylvia.
Ia menambahkan, seleksi tidak hanya berpatokan pada kategori atau kriteria akademis tertentu. Tim juga mempertimbangkan kondisi ekonomi mahasiswa dan keluarganya.
"Jadi kita melihat berdasarkan dari kebutuhan dari setiap kandidat kita, terutama dilihat dari bagaimana financial hardship yang mereka lalui," ungkap Sylvia.
Menurut Sylvia, kondisi ekonomi keluarga dapat berubah ketika mahasiswa masih menjalani pendidikan. Situasi tidak terduga dapat membuat keluarga yang sebelumnya mampu membiayai kuliah kemudian mengalami kesulitan.
Beasiswa untuk Mahasiswa yang Kena Force Majeure
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FEB UI, Kiki Verico, menjelaskan kondisi tersebut sebagai force majeure. Mahasiswa bisa saja memulai pendidikan dalam kondisi finansial yang memadai, tetapi kemudian menghadapi masalah keluarga.
"Forcemajeure itu maksudnya gini, sebetulnya awal dimulai pendidikannya mampu, tapi kemudian ya kita nggak pernah tahu, mungkin ada masalah di keluarga atau segala macam, breadwinner-nya sakit atau seperti apa, kan nggak bisa bayar," jelas Kiki.
Menurut Kiki, kondisi tersebut berbeda dari skema beasiswa reguler. Beasiswa reguler umumnya memiliki kriteria tertentu, seperti batas IPK dan persyaratan lainnya.
Sementara itu, kondisi force majeure sulit diprediksi sejak awal. Karena itu, bantuan dari alumni dapat mengisi ruang yang belum terjangkau oleh skema beasiswa reguler.
"Beasiswa ini yang luar biasa dari Angkatan 86 bisa tap in ke sini, karena ini yang belum, tadinya beasiswa itu kan kriteria, misalnya IPK-nya sekian, ininya sekian, tapi yang force majeure ini nggak ada mitigasinya," imbuh Kiki.
FEB UI Tak Ingin Mahasiswa Berhenti Kuliah
Kiki mengungkapkan, FEB UI hampir setiap semester menerima pengajuan penghapusan denda dari mahasiswa yang mengalami kondisi tidak terduga. Situasi tersebut antara lain berkaitan dengan orang tua yang meninggal dunia atau mengalami sakit keras.
Karena itu, dukungan alumni memiliki peran penting untuk membantu mahasiswa melewati tekanan finansial. Bantuan tersebut diharapkan dapat mencegah persoalan biaya mengganggu keberlanjutan pendidikan.
"Yang prinsipnya kita nggak mau anak FEB UI dengan alasan keuangan berhenti (kuliah), itu jangan sampai, itu nggak boleh," lugas Kiki.
Ia mengatakan bantuan beasiswa dapat terus diberikan selama mahasiswa masih membutuhkan dukungan hingga menyelesaikan pendidikan. Dengan begitu, mahasiswa dapat tetap fokus menjalani studi tanpa terbebani persoalan biaya.
"Ya, sampai mereka butuh, selesai, tentu sampai selesai," kata Kiki.