5 Jurus Karier dari CEO Astra Infra, Networking Saja Tak Cukup!
Group CEO Astra Infra, Firman Yosafat Siregar, S.E., M.M., M.B.A.--
KARAWANG BEKASI, DISWAY.ID - Group Chief Executive Officer (CEO) Astra Infra, Firman Yosafat Siregar, membagikan lima jurus penting untuk generasi muda yang ingin membangun karier dengan lebih kuat. Menurutnya, networking memang penting, tetapi jejaring tanpa kompetensi justru tidak akan banyak membantu.
Firman menyampaikan pandangan tersebut dalam Seminar & Career Advice Day di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Sabtu (29/8/2026). Ia membagikan pengalaman selama 35 tahun berkarier kepada mahasiswa FEB UI yang sedang mempersiapkan diri masuk ke dunia profesional.
Dalam kesempatan itu, Firman menekankan bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademis. Generasi muda juga perlu membangun relasi, mengasah soft skill, terus belajar, bekerja lebih keras, serta menjaga kejujuran.
1. Networking Harus Dibayar dengan Kompetensi
Firman menempatkan networking sebagai salah satu fondasi penting dalam perjalanan karier. Namun, ia mengingatkan bahwa hubungan profesional tidak akan berarti jika seseorang tidak memiliki kemampuan yang memadai.
"Networking tanpa adanya kompetensi itu bullshit. First rules: Networking. Tapi tanpa kompetensi itu nggak ada artinya," ujar Firman dalam Seminar and Career Advice Day, di Depok, Sabtu (29/8/2026).
Ia mencontohkan pengalaman ketika memulai karier di Price Waterhouse. Menurut Firman, jaringan yang dimiliki seseorang memang dapat membuka pintu kesempatan, tetapi kompetensi tetap menentukan apakah kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik.
Karena itu, membangun koneksi sebaiknya berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan. Relasi dapat mempertemukan seseorang dengan peluang, sedangkan kompetensi membantu seseorang mempertahankan kepercayaan dan mengembangkan karier.
2. Jangan Berhenti Belajar
Jurus kedua yang ditekankan Firman adalah kemauan untuk terus belajar dari orang yang lebih ahli. Ia mengaku tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
"Saya tidak pernah puas dan selalu bosan," jelas Firman.
Selama 35 tahun perjalanan profesionalnya, Firman pernah berkarier di Price Waterhouse, Lippobank, Bakrie Group, EY Indonesia, hingga Astra Infra Group. Perpindahan tersebut memberinya pengalaman di berbagai bidang, mulai dari audit, corporate banking, financial analysis, properti, treasury, business process, tax, hingga corporate finance.
"Perjalanan saya selama 35 tahun, seperti halnya seorang pendekar, dari awal harus menimba ilmu dari orang-orang yang jauh lebih expert dari saya," ungkap Firman.
Salah satu pengalaman paling berharga datang ketika ia menghadapi krisis moneter 1998. Saat itu, Firman terlibat dalam tim restrukturisasi utang Astra dan mempelajari berbagai hal terkait valuation, disposal company, hingga divestment.
"Itu memberikan ilmu yang luar biasa buat saya. Valuation, bagaimana bisa dispose company, divestment," kata Firman.
3. Kenali Diri dan Tentukan Arah
Firman juga meminta generasi muda memahami apa yang sebenarnya ingin mereka capai. Menurutnya, seseorang perlu tetap menjadi dirinya sendiri ketika menjalani perjalanan profesional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


