Cerita di Balik Bansos yang Terhenti Gara-gara Judol
Cerita di Balik Bansos yang Terhenti Gara-gara Judol.--Ilustrasi AI
KARAWANGBEKASI.DISWAY.ID - Aktivitas perjudian daring atau judi online (judol) tak hanya menguras kantong pemainnya. Dampaknya juga bisa merembet ke keluarga. Bahkan, status penerima manfaat dapat dinonaktifkan jika terdapat anggota keluarga yang terdeteksi terlibat aktivitas judol.
Kondisi itu turut dialami SN, warga Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Kebiasaan bermain judol yang dilakukannya berujung pada terhentinya bansos yang selama ini diterima keluarganya.
Bukan sang ayah yang bermain judol. SN mengakui dirinya sendiri yang terjerat permainan tersebut. Namun, ketika aktivitas itu terdeteksi melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK), dampaknya tidak berhenti pada dirinya.
“Jujur aja, yang main bukan ayah saya tapi saya. Saya juga kena omel sama ayah saya, karena keluarga biasa dapat tapi sekarang enggak. Mau minta ke desa juga enggak bisa karena diblokir,” kata SN kepada Cikarang Ekspres, Rabu 2 September 2026.
SN mengakui rasa penyesalan karena kebiasaannya bermain judol turut berdampak terhadap kondisi keluarganya. Namun, ia mengaku masih kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut. Selain merasa sudah banyak kehilangan uang, SN juga terjebak rasa penasaran untuk terus bermain demi mengejar kemenangan dan mengembalikan uang yang telah habis.
“Nyesal juga, orang udah abus banyak, tapi ya gimana itu udah gitu iklannya muncul terus. Semoga iklan-iklan judol juga bisa diberantas,” ujarnya.
Kisah SN terjadi di tengah kebijakan penonaktifan penerima bansos yang terindikasi judi online. Di Kabupaten Bekasi, sedikitnya 22.000 penerima bansos terindikasi judol dalam tiga bulan terakhir dan kemudian dinonaktifkan dari data penerima bantuan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


