Dengan rangkaian produksi yang saling terhubung, ketersediaan gas menjadi faktor penting. Gangguan pasokan berpotensi memengaruhi proses produksi, terutama apabila kebutuhan bahan baku tidak terpenuhi sesuai kebutuhan operasional pabrik.
Rahayu menyebutkan, pemenuhan kebutuhan gas Pupuk Kujang dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), PT Pertamina EP, PT Pertamina Gas Negara (PGN), serta dukungan penyaluran dari PT Pertamina Gas (Pertagas).
"Pertagas berperan menyalurkan gas dari sejumlah sumber pasokan menuju plant gate atau pintu gerbang pabrik Pupuk Kujang," terang Rahayu.
Peran jaringan penyaluran ini semakin terasa ketika pasokan dari sejumlah wilayah menghadapi kendala. Rahayu mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir terdapat tantangan suplai gas dari beberapa sumber, termasuk Subang dan Sumatera.
Dalam kondisi tersebut, koordinasi dengan Pertagas membantu Pupuk Kujang menjaga keberlangsungan operasional pabrik. Kolaborasi penyaluran dilakukan agar kegiatan produksi tetap berjalan tanpa harus menghentikan salah satu unit pabrik.
"Kolaborasi erat dengan Pertagas sangat membantu mengamankan operasional pabrik agar tetap berjalan lancar tanpa harus mematikan salah satu pabrik," terang Rahayu.
Rahayu juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan tim Pertagas yang selama ini membantu menjaga kebutuhan gas untuk pabrik amonia dan urea. Menurutnya, keberadaan jaringan penyaluran gas menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan bahan baku industri pupuk.
"Terima kasih atas dukungan yang diberikan selama ini oleh tim Pertagas dalam memenuhi kebutuhan produksi Pupuk Kujang agar dapat terus eksis," terang Rahayu.