Selain di Jawa Barat, layanan penyaluran gas Pertagas juga mendukung kebutuhan berbagai sektor industri strategis di wilayah lain, termasuk industri pupuk di Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.
"Sepanjang 2025, Pertagas mencatat total penyaluran gas bumi secara nasional sebesar 582.724 MMSCF," terang Tedi.
Di Pulau Jawa, pengembangan konektivitas infrastruktur gas bumi juga dilakukan melalui pembangunan Pipa Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap II. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk memperkuat integrasi jaringan transmisi gas bumi dan memperluas akses pasokan bagi kawasan industri, sesuai ketersediaan gas dan kesiapan jaringan.
Sebelum sampai ke PT Pupuk Kujang, gas melewati sejumlah fasilitas dalam sistem transmisi. Salah satunya adalah Onshore Receiving Facility (ORF) Cilamaya di wilayah kerja PHE ONWJ yang menjadi bagian dari rangkaian penerimaan dan penyaluran gas di wilayah operasi laut Jawa.
Di fasilitas tersebut, gas yang datang dari sumber pasokan terlebih dahulu melalui proses pemisahan dan penyaringan. Tahapan ini dilakukan untuk memisahkan material atau kandungan lain yang terbawa bersama aliran gas.
Setelah melewati proses penyaringan, gas masuk ke tahap pengukuran melalui fasilitas metering. Pengukuran diperlukan untuk mengetahui volume gas dan tekanan yang akan disalurkan kepada konsumen. Gas yang telah melalui tahapan tersebut kemudian diteruskan melalui jaringan pipa menuju pelanggan, termasuk Pupuk Kujang.
Supervisor Gas ORF Cilamaya, Edwart Suryana Atmaja menjelaskan bahwa proses penerimaan hingga penyaluran gas membutuhkan pengawasan operasional.
Edwart menyebutkan, ORF Cilamaya hanya memiliki empat pekerja yang menjalankan sistem kerja yang berbeda. Setiap pekerja bergantian selama 12 jam dalam dua sif dengan mekanisme 12 hari kerja dan 12 hari libur. Meski begitu, operasional tak pernah libur dari pengawasan, bahkan pada perayaan lebaran dan tahaun baru.