Merajut Energi, Mengawal Pangan Nasional

Merajut Energi, Mengawal Pangan Nasional

Petugas tengah mengatur tekanan di metering station Dawuan untuk distribusi gas ke PT Pupuk Kujang.--

 

Supervisor Gas ORF Cilamaya, Edwart Suryana Atmaja menjelaskan bahwa proses penerimaan hingga penyaluran gas membutuhkan pengawasan operasional.

 

Edwart menyebutkan, ORF Cilamaya hanya memiliki empat pekerja yang menjalankan sistem kerja yang berbeda. Setiap pekerja bergantian selama 12 jam dalam dua sif dengan mekanisme 12 hari kerja dan 12 hari libur. Meski begitu, operasional tak pernah libur dari pengawasan, bahkan pada perayaan lebaran dan tahaun baru.

 

"Tahapan pemisahan, penyaringan, dan pengukuran menjadi bagian penting sebelum gas dikirimkan kepada konsumen. Proses tersebut dilakukan agar gas yang masuk ke fasilitas dapat dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan penyaluran sesuai ketentuan operasional," terang Edwart.

 

Selain ke PT Pupuk Kujang, Edwart menyampaikan bahwa operasional ORF Cilamaya juga memiliki sejumlah konsumen lain, antara lain PT Bayu Buana Gemilang (BBG), PT Pertagas, serta PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) yang belum lama ini diresmikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada Kamis (15/10/2026) lalu.

 

Keberadaan ORF Cilamaya memperlihatkan bahwa penyaluran gas tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber di hulu. Fasilitas penerimaan, pengolahan, pengukuran, serta jaringan pipa menjadi satu kesatuan yang mendukung distribusi menuju konsumen.

 

Pekerjaan menjaga aliran gas juga tidak berhenti di dalam kompleks stasiun. Di luar fasilitas, terdapat jaringan pipa yang membentang melintasi sejumlah wilayah dan membutuhkan pemeriksaan rutin.

 

Operator Pipeline & Metering System, Rafli Rianzah Putra, menjadi salah satu petugas yang bertanggung jawab mengawasi operasional dan kondisi jalur pipa di wilayah Cilamaya.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: