PAUD Holistik Integratif Jalan Sunyi Membangun Generasi Emas

PAUD Holistik Integratif Jalan Sunyi Membangun Generasi Emas

Deden Deni Mahendra, M.Pd {Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)}--karawangbekasi.disway.id

‎‎PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni simbolik, tetapi menjadi ruang refleksi kritis untuk meninjau kembali fondasi Pendidikan nasional, terutama pada jenjang paling fundamental: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada fase inilah arsitektur dasar perkembangan manusia dibangun.

 

 

‎James J. Heckman (2011), peraih Nobel Ekonomi, menegaskan bahwa investasi pendidikan paling efektif dan berdampak jangka panjang justru terjadi pada usia dini. Dengan kata lain, kualitas masa depan bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana negara mengelola pendidikan pada fase awal kehidupan.

 

 

‎Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa PAUD masih kerap direduksi sebagai pendidikan “persiapan” menuju sekolah dasar, bukan sebagai fase krusial perkembangan manusia seutuhnya. Perspektif ini jelas problematik. Kajian neurosains yang dirujuk oleh Center on the Developing Child Harvard University menunjukkan bahwa lebih dari 80% perkembangan struktur otak terjadi pada usia 0 6 tahun. Pada fase ini, pengalaman belajar anak baik kognitif, emosional, maupun sosial membentuk fondasi permanen bagi perkembangan selanjutnya. Ketika fase ini diabaikan atau dikelola secara tidak optimal, yang hilang bukan sekadar capaian akademik, melainkan kapasitas dasar manusia untuk berpikir, berperilaku, dan berinteraksi secara adaptif.

 

 

‎Dalam konteks tersebut, pendekatan PAUD Holistik Integratif (HI) menjadi keniscayaan. Konsep ini menempatkan anak sebagai subjek yang utuh melalui integrasi layanan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan. Sejalan dengan pandangan Urie Bronfenbrenner melalui teori ekologi perkembangan, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh interaksi berbagai sistem lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga kebijakan publik. Artinya, keberhasilan PAUD tidak dapat dibebankan hanya pada satuan pendidikan, melainkan memerlukan orkestrasi lintas sektor yang terintegrasi. Namun demikian, realitas implementasi PAUD HI di Indonesia masih menghadapi tantangan struktural. Koordinasi lintas sektor yang belum optimal, disparitas kompetensi pendidik, serta kebijakan yang cenderung normatif dan belum sepenuhnya operasional di tingkat satuan pendidikan menjadi hambatan utama. Akibatnya, pendekatan yang seharusnya Integratif sering kali tereduksi menjadi program parsial yang berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi yang kuat.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: